Tragedi Trans7: Jangan Didik Santri seperti Yahudi Israel yang Suka Bunuh Wartawan
Sebagaimana sekolah, pesantren ada yang bagus, kurang bagus dan ada yang buruk dalam manajemen pendidikannya.
Sebagai mantan santri, kita harusnya terbuka dengan kritik yang ada. Kita harus sadar bahwa era sekarang adalah era medsos. Meski program tayangan Trans7 itu bubar, mereka bisa bikin kembali tayangan untuk dimuat di medsos, di Youtube, Instagram dan lain-lain.
Dalam era keterbukaan informasi saat ini, santri justru harus dididik dengan pemikiran terbuka. Mereka harus dibekali dan ilmu akidah dan syariah yang kuat, tapi juga harus dibekali juga dengan akhlak, sejarah, budaya Islam, sains dan lain-lain. Mereka harus disiapkan untuk perang pemikiran di dunia medsos atau media massa.
Santri jangan kita didik untuk demo dan mengancam-ancam wartawan, karena tampilan yang menyinggung kiai atau pesantren kita. Didiklah santri menulis, berdebat, ceramah untuk menunjukkan kemuliaan Islam. Didiklah santri membuat inovasi atau karya yang berguna bagi umat manusia.
Memang untuk mendidik santri ini, kiainya dulu yang harus dididik. Kiainya dulu yang harus menjadi teladan. Kalau kiainya lebih mengutamakan harta daripada ilmu, lebih mengutamakan jabatan daripada dakwah, lebih mengutamakan uang daripada amar makruf nahi mungkar, bagaimana mau mendidik santrinya.
Ingatlah wahai kiai, jangan kita mendidik santri seperti Yahudi Israel yang suka membunuh wartawan. Israel kini telah membunuh 250 wartawan dan Hamas tidak membunuh satu wartawan pun. Waallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.



