NUIM HIDAYAT

Tragedi Trans7: Jangan Didik Santri seperti Yahudi Israel yang Suka Bunuh Wartawan

Tayangan Trans7 tentang beberapa tradisi pesantren yang kurang bagus, beberapa waktu lalu, mendapat kecaman keras dari dunia pesantren, khususnya pesantren NU. Ulil Abshar Abdalla dan Islah Bahrawi di antara orang yang mengecam tayangan itu. Bahkan Ketua GP Ansor DKI Jakarta dalam demonya malah mengancam ingin menggorok leher orang yang menayangkan video itu.

Setelah beberapa kali melihat tayangan Trans7 itu, saya yang cukup lama jadi wartawan, merasa biasa saja tayangan itu. Tayangan itu memang menampilkan kritikan tajam kepada pesantren. Di antaranya kemewahan para kiai berbanding terbalik dengan kondisi santrinya, jalan ngesot untuk mendapat hadiah susu dan lain-lain.

Dalam dunia jurnalisitik menampilkan fakta kemudiandisertai dengan gaya penuturan yang ‘agak sinis’, adalah biasa saja. Asal yang ditampilkan fakta dan bukan merupakan kebohongan.

Memang di tanah air, masih terjadi gap antara pers bebas dan kepribadian masyarakat. Banyak masyarakat, kiai, pejabat, tokoh masyarakat yang tidak siap dengan pers bebas.

Mereka tidak paham dunia sekarang berbeda dengan dunia mereka di masa dulu. Tayangan Trans7 itu tidak ada apa-apanya dengan dunia medsos. Di Twitter, Facebook, YouTube dan lain-lain, caci maki adalah hal biasa. Menghina, mengolok-olok, berantem kata-kata adalah biasa.

Mereka yang terbiasa melihat medsos, maka melihat tayangan Trans7 adalah hal biasa. Tapi bagi mereka yang jarang melihat pertarungan pemikiran di medsos, maka tayangan Trans7 itu dianggap luar biasa.

Para kiai (dan santri harusnya) menyadari bahwa saat ini adalah saat keterbukaan informasi. Saat ini dunia lebih dikuasai medsos daripada media massa. Di dunia medsos keterbukaan informasi lebih hebat dari media massa.

Media massa banyak yang tutup, miliaran orang menjadi penggemar medsos. Medsos menarik karena di medsos mereka merasa dapat berpartisipasi dan menyampaikan pemikiran atau pendapatnya. Miliaran orang tiap hari melihat di HP-nya, tayangan Youtube, Facebook, Instagram dan lain-lain.

Seperti kita ketahui, media sosial atau medsos tidak ada redaksinya. Semua bisa berpartisipasi di sana. Sedangkan media massa (konvensional) ada redaksinya. Redaksi itulah yang menyeleksi tulisan atau tayangan.

Harusnya para pendukung pesantren, membantah tayangan itu dengan video-video yang menampilkan kebagusan dunia pesantren. Dan seharusnya juga mengakui kelemahan atau kesalahan yang dilakukan pesantrennya, bila memang melakukan kesalahan.

Kebetulan saya yang pernah lama ngaji pada kiai-kiai di pesantren, saya temukan tradisi pesantren ada yang bagus, ada yang tidak. Banyak pesantren yang mendidik santrinya seadanya, alias kurang serius. Yang penting jumlah santri banyak, ilmu, keahlian dan kemampuan santri kurang diperhatikan. Di lapangan kita menemukan kiai atau ustadz yang bermewah-mewah hidupnya dan lain-lain.

Tentu ada pula pesantren yang bagus mendidik santrinya. Para ustaz atau kiainya serius mendidik agar mereka menjadi ulama atau pemimpin di suatu hari nanti.

1 2Laman berikutnya
Back to top button