230 Dokter Palestina Rayakan Wisuda di Tengah Puing dan Luka Perang Gaza

“Beban psikologis itu sangat berat, tetapi justru memperkuat tekad saya untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran,” ujarnya, meski kelulusannya tertunda sekitar enam bulan.
Sementara itu, Dr. Reham Al-Souri, lulusan Universitas Al-Azhar, menuturkan bahwa ia harus menjalani pelatihan dalam kondisi lapangan yang sangat berbahaya, di tengah keterbatasan sumber daya akibat pengepungan dan rusaknya infrastruktur kesehatan dan pendidikan. Pemadaman listrik dan internet, kesulitan transportasi, serta pelatihan yang tidak menentu menjadi bagian dari kesehariannya. Ia tetap melanjutkan pelatihan di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, meskipun fasilitas yang tersedia jauh dari memadai dibandingkan sebelum perang.
Dr. Shams Abu Suweireh juga mengisahkan penderitaan akibat pengungsian, minimnya bahan belajar, serta ketergantungan pada perangkat elektronik di tengah krisis listrik dan internet. Ia menegaskan bahwa semua rintangan tersebut tidak mematahkan mimpinya. “Kami menentang segalanya karena keyakinan kami pada mimpi kami,” katanya.
Di Gaza, wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah pernyataan hidup, bahwa di tengah kehancuran dan kematian, generasi baru dokter tetap lahir—siap mengabdi, menyembuhkan, dan menjaga harapan tetap menyala.
sumber: infopalestina






