Bencana: Sebab dan Penanganannya dalam Perspektif Islam
Banjir bandang, longsor, dan bahkan angin puting beliung kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Berita duka bermunculan: warga terseret arus, rumah hanyut, keluarga mengungsi, dan sebagian korban belum berhasil dievakuasi karena akses yang terputus, curah hujan tinggi, serta medan yang menyulitkan.
Sementara itu, BNPB dan BPBD di berbagai daerah berjuang dengan segala keterbatasan peralatan kurang, personel terbatas, dan cuaca ekstrem yang tak bersahabat.
Sayangnya, tragedi seperti ini bukan pertama kali. Dari tahun ke tahun, bencana serupa berulang dengan pola yang sama: terjadi secara masif, menimbulkan banyak korban, tetapi penanganannya cenderung lamban dan bersifat insidental. Pemerintah mengerahkan bantuan, tim evakuasi diturunkan, logistik didistribusikan namun setelah semua mereda, penyebab mendasar tak banyak berubah.
Pertanyaannya: mengapa bencana terus berulang? Dan bagaimana Islam memandang realitas ini, tentu bukan hanya sebagai musibah alam, tetapi juga cermin dari cara manusia mengelola bumi.
Bukan Sekadar Fenomena Alam: Ada Tangan Manusia di Baliknya
Secara ilmiah maupun empiris, banjir dan longsor di banyak wilayah Indonesia bukanlah murni bencana alam. Keduanya sering kali merupakan akibat dari kerusakan hutan dan pembukaan lahan besar-besaran.
Tata ruang yang kacau dan penuh pelanggaran. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Ketamakan pelaku usaha yang mengejar keuntungan tanpa batas, hingga lemahnya pengawasan pemerintah dan inkonsistensi penegakan hukum
Apalagi Indonesia adalah negara dengan tingkat eksploitasi alam yang sangat tinggi. Penebangan hutan, pertambangan, konversi lahan, dan alih fungsi daerah serapan air menjadi kawasan industri terus terjadi. Ini belum termasuk praktik korupsi perizinan, kongkalikong proyek infrastruktur, serta pembangunan yang lebih berorientasi pada profit daripada keselamatan manusia.
Dengan kata lain, bencana seringkali bukan “bencana alam”, tetapi “bencana akibat ulah manusia”.
Islam jauh-jauh hari telah memperingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini tidak hanya menjelaskan fenomena spiritual, tetapi juga realitas ekologis. Ketika manusia tamak dan serakah, ketika mereka merusak keseimbangan (mizan) yang Allah tetapkan, kerusakan itu akan kembali kepada mereka dalam bentuk musibah.
Sistem Kapitalisme: Akar dari Ekspoitasi dan Kerusakan Lingkungan
Bila ditelusuri lebih dalam, banyak bencana ekologis berakar dari paradigma kapitalistik dalam mengatur ruang hidup dan sumber daya alam. Kapitalisme berwatak mengejar keuntungan tanpa batas. Menganggap alam sebagai komoditas. Mengorbankan hutan, sungai, dan tanah demi investasi. Mengutamakan pertumbuhan ekonomi sekalipun merusak ekologi, mendorong industrialisasi tanpa mitigasi






