Duduk di Kursi Orang Lain
Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*
Suatu sore di sebuah halte tua di pinggir kota, Rahman duduk sendirian. Kursi besi itu dingin, catnya mengelupas, dan papan iklannya sudah pudar. Ia baru saja mengeluh—tentang hidup, tentang uang yang selalu kurang, tentang pekerjaan yang tak pernah selesai.
Ponselnya masih menyala, menampilkan sebuah kutipan sederhana: “Harta yang kurang, coba duduk dengan yang miskin.” Rahman mengernyit. Ia merasa kutipan itu klise. Terlalu sering dipakai, terlalu mudah diucapkan.
Namun sore itu, kutipan itu seperti tidak mau pergi.
Di sebelahnya duduk seorang lelaki tua dengan tas plastik lusuh. Lelaki itu diam, menatap jalan. Tidak mengeluh, tidak juga berbincang. Rahman sempat melirik jam mahal di pergelangan tangannya, lalu memandang tas plastik itu. Isinya tampak ringan—mungkin hanya pakaian dan sebungkus nasi. Rahman tiba-tiba merasa janggal dengan keluhannya sendiri. Kekurangan, rupanya, selalu relatif. Di kursi yang sama, beban hidup bisa berbeda beratnya.
Ungkapan itu berlanjut: “Kerjaan yang menumpuk, coba duduk dengan yang tak punya kerjaan.” Esok harinya, Rahman bertemu Dedi, tetangga lamanya yang sudah berbulan-bulan menganggur. Dedi tak bicara tentang tenggat waktu, laporan, atau rapat. Ia bicara tentang menunggu. Tentang pagi yang terlalu panjang dan malam yang terlalu sunyi. Tentang rasa tidak dibutuhkan. Rahman mendengarkan, dan untuk pertama kalinya, tumpukan pekerjaannya terasa seperti tanda bahwa ia masih diharapkan, masih punya tempat.
Ada ironi di situ: kita sering mengutuk kesibukan, tapi lupa bahwa ketiadaan pekerjaan juga bisa melukai harga diri.
Figur lain hadir dalam cerita ini: Maya, seorang ibu dengan dua anak kecil. Ia sering mengeluh tentang anak-anaknya yang sulit diatur—berisik, keras kepala, menguras energi. Suatu hari, di ruang tunggu klinik, ia duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang datang sendirian.
Perempuan itu tersenyum saat melihat anak-anak Maya berlarian. “Saya tidak punya anak,” katanya pelan. Maya terdiam. Keluhannya terasa canggung. Ungkapan itu kembali terngiang: “Anak yang susah diatur, coba duduk dengan orang yang tidak mempunyai anak.”
Bukan berarti keluhan Maya tak sah. Hanya saja, perspektif sering kali memperkecil atau memperbesar luka.
Ungkapan itu tidak berhenti di situ. “Orang tua yang cerewet, coba duduk dengan yang tak punya orang tua.” Di sinilah cerita Rahman bertemu dengan Sari, rekan kerjanya yang selalu menolak pulang kampung saat libur panjang. Suatu malam, dalam perjalanan lembur, Sari bercerita bahwa ia sudah yatim piatu sejak kuliah. Tidak ada telepon cerewet, tidak ada pesan pengingat makan, tidak ada suara yang menanyakan kabar.
Rahman teringat ayahnya yang sering mengomel soal hidupnya. Untuk pertama kalinya, omelan itu terdengar seperti bentuk lain dari kepedulian.
Esai ini bukan tentang meniadakan keluhan. Bukan pula tentang kompetisi penderitaan—siapa paling menderita, siapa paling berhak mengeluh. Ini tentang kebiasaan manusia melihat hidup hanya dari kursinya sendiri. Kita duduk nyaman di kursi kita, lalu menilai dunia dari ketinggian atau kedalamannya. Kita lupa bahwa ada kursi lain di ruangan yang sama, dengan cerita berbeda.
Kalimat terakhir dari ungkapan itu menampar lebih keras: “Hidup yang kau keluhkan adalah dambaan hidup orang lain.” Di sini, nada moralnya jelas. Tapi alih-alih menjadi khotbah, kalimat itu seharusnya menjadi cermin. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan.






