Ketika Sekretaris Kedutaan Amerika di Jakarta Bicara
2003. Beberapa hari menjelang Amerika menyerang Irak, ada pertemuan di Gedung PP Muhammadiyah. Pertemuan itu antara Kedutaan Amerika dengan Ormas-Ormas Islam.
Hadir dalam pertemuan itu ormas Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, FPI, MMI, Hidayatullah dll. Sedangkan dari Kedubes Ametika datang Sekretaris Kedutaan AS. Hadir juga wakil dari Kedutaan Kuwait. O ya ada pula Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama.
Saya yang saat itu kebetulan menjadi anggota redaksi Majalah Tabligh Muhammadiyah ikut dalam pertemuan itu.
Yang menarik ternyata dalam pertemuan itu Kedubes Amerika ingin mengetahui sikap ormas-ormas Islam Indonesia bila Amerika menyerang Irak.
Sekretaris Kedubes Ametika itu lancar berbahasa Indonesia. Sayang saya lupa namanya. Ia meyakinkan kita bahwa Amerika nyerang Irak itu untuk kebaikan Irak sendiri. Saddam Hussein itu disebutnya pemimpin diktator, pembunuh ulama dan menyebabkan kesengsaraan rakyat Irak dan sekitarnya. Saddam juga pernah menginvasi Kuwait dll.
Ketika terjadi dialog, kontan saya, Ismail Yusanto dll mengacungkan jari. Kita menyatakan bahwa kita tidak setuju rencana Amerika itu. Invasi AS ke Afghanistan 2001 telah menimbulkan banyak korban jiwa dan membuat Afghan semrawut. Biarlah Irak diatur sendiri oleh rakyatnya.
Tarmizi Taher menambahkan bahwa di dunia ini memang yang kuat yang akan menang.
Pertemuan itu tanpa kesimpulan. Kita dialog dan kemudian pulang.
Yang menarik dari pertemuan ini adalah bagaimana cara Ametika melobi dunia Islam agar setuju dengan agenda agendanya.
Amerika sebagai polisi dunia dan unggul dalam ilmu dan teknologi merasa berhak untuk menentukan siapa yg berhak jadi presiden dan siapa yg harus digulingkan. Baik di dunia Islam maupun di belahan dunia lainnya. Pemimpin AS seperti Yahudi merasa sebagai ras unggul yang berhak mengatur dunia.
Kita tahu Irak akhirnya diserbu Amerika dan menyebabkan korban jiwa lebih dari 500 ribu orang Irak. Tentara Amerika yang tewas juga ribuan. Alumni alumni perang Irak di Ametika, banyak yang menggugat Presiden Bush dan mereka merasa ditipu oleh Bush.
Sekarang Presiden Trump melakukan hal yang mirip dengan Bush. Bedanya Presiden Irak saat itu ditangkap pasukan Amerika, diadili di Irak dan akhirnya dihukum gantung. Sedangan Presiden Maduro yang ditangkap pasukan Amerika akan diadili di Amerika.
Penculikan Maduro yang diawali sebelumnya dengan pengeboman dan penembakan tim pengawal, telah menewaskan 80 orang. Kita tidak tahu lagi berapa rakyat Venezuela yang akan tewas berikutnya.
Yang jelas, presiden Amerika akan mengendalikan sepenuhnya Venezuela. Baik politik, ekonomi, militer dll. Seperti Bush, Trump tergiur minyak yang melimpah di Venezuela karena negaranya sedang krisis keuangan.
Begitulah sedikit pengalaman hidup. Wallahu alimun hakim.[]
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






