Aksi Tolak Board of Peace, Ratusan Ribu Warga London Tuntut Setop Genosida di Gaza
London (SI Online) – Ibu kota Inggris, London, menjadi saksi salah satu demonstrasi pro-Palestina terbesar sejak gencatan senjata Oktober 2015. Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan pada Sabtu (31/1), mengikuti pawai besar-besaran di pusat kota London untuk menyuarakan penolakan terhadap inisiatif perdamaian yang digagas pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sekaligus menegaskan tuntutan diakhirinya agresi Israel, pendudukan wilayah Palestina, serta pembebasan para tahanan Palestina.
Lautan massa yang terdiri atas keluarga-keluarga Inggris, aktivis hak asasi manusia, anggota serikat pekerja, tenaga medis, mahasiswa, serta komunitas Arab dan Muslim memenuhi jalan-jalan utama kota. Mereka mengibarkan bendera Palestina dan membawa spanduk yang menyerukan penghentian ekspor senjata ke Israel, tuntutan akuntabilitas atas kejahatan perang, serta kecaman terhadap apa yang mereka sebut sebagai kebijakan genosida dan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.
Pawai ini diselenggarakan oleh Kampanye Solidaritas Palestina, sebuah koalisi organisasi akar rumput dan lembaga hak asasi manusia terkemuka di Inggris. Koalisi tersebut melibatkan Forum Palestina di Inggris, Kampanye Solidaritas Palestina, Koalisi Hentikan Perang, Sahabat Al-Aqsa, dan Asosiasi Muslim Inggris.
Para penyelenggara menegaskan bahwa gelombang solidaritas yang terus membesar ini mencerminkan penolakan publik Inggris terhadap segala upaya untuk memaksakan solusi politik yang mengabaikan hak-hak fundamental rakyat Palestina, terutama hak untuk kembali bagi para pengungsi dan kewajiban mengakhiri pendudukan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Pidato Tokoh Politik dan Serikat Pekerja
Dari panggung utama, sejumlah tokoh politik, aktivis, dan perwakilan serikat pekerja menyampaikan pidato yang menyoroti krisis kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional di Palestina. Di antaranya adalah anggota parlemen Inggris Jeremy Corbyn, ahli bedah Palestina-Inggris Ghassan Abu Sitta, anggota parlemen Partai Buruh John McDonnell, serta seniman dan aktivis Juliet Stevenson.
Perwakilan Forum Palestina di Inggris dan Kampanye Pita Merah turut menyampaikan orasi yang secara khusus menyoroti nasib ribuan tahanan Palestina dan pentingnya menjaga isu tersebut tetap berada di pusat perhatian komunitas internasional.
Dalam pidatonya, Jeremy Corbyn menyebut situasi di Palestina sebagai ujian nyata bagi hati nurani dunia. “Tidak akan pernah ada perdamaian sejati selama ketidakadilan dan pendudukan terus berlangsung,” ujarnya. Ia menyoroti ribuan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, termasuk mereka yang ditahan secara administratif tanpa proses peradilan, dan menyebut praktik tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Corbyn juga kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana pemerintahan Trump. Menurutnya, pihak yang menghancurkan Gaza harus bertanggung jawab atas rekonstruksinya, sementara hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah air mereka tidak dapat dicabut dalam kondisi apa pun.
Pita Merah, Simbol Solidaritas bagi Tahanan Palestina
Aksi demonstrasi ini juga ditandai dengan pembagian pita merah kepada puluhan ribu peserta sebagai bagian dari kampanye solidaritas global bagi tahanan Palestina. Para penyelenggara menjelaskan bahwa warna merah melambangkan bahaya nyata yang mengancam nyawa para tahanan akibat penyiksaan, pengabaian medis, serta kondisi penahanan yang tidak manusiawi.
“Isu para tahanan akan tetap menjadi prioritas hingga mereka dibebaskan,” tegas para penggerak kampanye.
Koordinator Kampanye Pita Merah, Adnan Hmaidan, mengatakan bahwa demonstrasi ini bertepatan dengan peringatan satu tahun pembunuhan gadis Palestina, Hind Rajab. Menurutnya, kisah Hind merangkum besarnya tragedi kemanusiaan yang terus dialami rakyat Palestina.
“Pesan kami jelas: jangan biarkan pendudukan melenyapkan apa yang tersisa dari rakyat Palestina, terutama para tahanan yang hidup dalam kondisi paling keras,” ujarnya.
Sementara itu, Shaima Dalali, yang berbicara atas nama Asosiasi Muslim Inggris, menegaskan bahwa meningkatnya jumlah korban jiwa di Gaza mencerminkan skala bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung. “Setiap angka mewakili keluarga yang hancur dan masa depan yang direnggut,” katanya.
Gelombang Solidaritas Global
Demonstrasi di London berlangsung serentak dengan aksi dan protes di berbagai negara lain, termasuk Kanada, Australia, Jerman, Swedia, Norwegia, Korea Selatan, dan Meksiko. Aksi-aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan internasional yang terus menguat untuk menyoroti penderitaan rakyat Palestina, khususnya para tahanan, serta mengecam pembiaran dunia terhadap pelanggaran hukum internasional.
Para peserta menilai konvergensi aksi global ini mencerminkan meningkatnya kesadaran dan solidaritas masyarakat dunia, sekaligus penolakan terhadap upaya menormalisasi kejahatan Israel atau memperlakukannya sebagai fait accompli—kenyataan yang dianggap tidak dapat diubah.
Para penyelenggara menegaskan bahwa masyarakat Inggris akan terus bersuara dan melakukan aktivisme. Solidaritas, menurut mereka, tidak akan surut selama pendudukan masih berlangsung, hak-hak rakyat Palestina terus ditunda, dan penderitaan kemanusiaan belum berakhir.
sumber: infopalestina






