OPINI

Tiga Tabir Kegelapan

Paradoks Indonesia bukan karena kita miskin ide. Bukan karena kita kekurangan program. Dan bukan karena kita tidak punya pemimpin yang punya visi. Paradoks Indonesia terjadi karena bercokolnya tiga kegelapan yang sudah lama mengakar dalam cara kita mengelola negara.

Kegelapan pertama ada pada Individu. Cara sebagian elite memandang kekuasaan masih sebagai kesempatan, bukan amanah. Jabatan sering diperlakukan sebagai akses pada proyek, pengaruh, dan jaringan kepentingan. Selama mentalitas ini tidak berubah, program sebesar apa pun akan mudah melenceng. Swasembada bisa jadi proyek. Bantuan sosial bisa jadi alat politik. Hilirisasi bisa jadi perpindahan rente. Masalahnya bukan pada konsepnya, tetapi pada orientasinya.

Kegelapan kedua ada pada sistem. Aturan main kita sering memberi ruang pada kepentingan jangka pendek. Anggaran dinilai dari serapan, bukan dampak. Promosi jabatan tidak selalu berbasis kinerja. Politik membutuhkan biaya tinggi sehingga kekuasaan terasa seperti investasi yang harus kembali. Dalam sistem seperti ini, orang baik pun bisa terjebak. Program berjalan, tetapi tidak maksimal. Dana keluar besar, hasilnya biasa saja. Ini bukan soal satu dua orang, ini soal struktur yang salah.

Kegelapan ketiga ada pada visi. Kita sering bergerak tanpa arah jangka panjang yang konsisten. Fokus pada target cepat, pada angka-angka tahunan, pada pencapaian lima tahunan. Padahal membangun negara butuh keteguhan puluhan tahun. Tanpa visi yang jelas dan disepakati bersama, program mudah berubah menjadi daftar kegiatan, bukan langkah menuju perubahan besar. Akibatnya, kebijakan sering reaktif, bukan strategis.

Di sinilah inti persoalannya. Paradoks Indonesia terjadi karena tiga kegelapan ini bercokol bersamaan: individu yang belum sepenuhnya berorientasi amanah, sistem yang memberi insentif keliru, dan visi jangka panjang yang tidak kokoh.

Karena itu, strategi transformasi sebesar apa pun tidak akan berhasil jika tiga tabir ini tidak diruntuhkan sekaligus. Tidak cukup hanya memperbaiki mentalitas tanpa memperbaiki sistem. Tidak cukup hanya memperbaiki sistem tanpa memperjelas visi. Dan tidak cukup hanya punya visi tanpa membenahi individu dan aturan mainnya.

Jika hanya satu yang dibenahi, dua lainnya akan menarik kembali ke pola lama. Jika sistem dibenahi tapi mentalitas tetap oportunistik, celah baru akan dicari. Jika mentalitas diperbaiki tapi sistem tetap longgar, penyimpangan tetap terjadi. Jika visi dideklarasikan tapi individu dan sistem tidak berubah, visi hanya jadi slogan.

Semua inisiatif besar—ketahanan pangan, makan bergizi, hilirisasi, koperasi desa, pengentasan kemiskinan—akan tumpul jika tiga kegelapan itu tetap berdiri. Ia akan bergerak, tetapi tidak menembus akar masalah. Ia akan menghabiskan energi, tetapi tidak mengubah struktur.

Sebaliknya, jika tiga tabir gelap ini diruntuhkan bersamaan, hasilnya akan berbeda. Program yang sama bisa menjadi tajam. Anggaran yang sama bisa menjadi efektif. Strategi yang sama bisa menjadi transformasi nyata.

Jadi persoalannya sederhana dan lugas: Indonesia tidak kekurangan program dan strategi. Indonesia perlu membereskan tiga kegelapan yang selama ini mengunci potensinya.

Tanpa itu, kita akan terus hidup dalam paradoks. Dengan itu, transformasi bukan lagi wacana, tetapi lompatan sejarah.

Rahmat Mulyana

Back to top button