Amien Rais: Presiden dan Mafia Terlalu Akrab
Jakarta (SI Online) – Profesor Amien Rais menyoroti isu penting di Indonesia sebagai warisan Jokowi yang dilanjutkan oleh Presiden Prabowo saat ini. Isu penting itu adalah persahabatan atau pertemanan akrab antara presiden dengan tokoh-tokoh mafia Indonesia.
“Dalam kaitan ini, persahabatan Jokowi dengan mafia Indonesia dilakukan secara hati-hati. Jadi Jokowi saya kira sadar kalau masyarakat sampai menyimpulkan bahwa Jokowi terlalu dekat dengan mafia sebagai parasit atau benalu ekonomi dan politik Indonesia, (maka) kemarahan rakyat bisa meledak dan sulit dibendung atau ditanggulangi. Nah, Prabowo lebih berani dan lebih terang-terangan dalam hal apa? Yaitu tadi tidak pernah menyangka atau menyadari bahwa ada kelompok anak-anak bangsa yang terus mengikuti gerak langkah Prabowo sebagai presiden baru yang ternyata lebih gawat dibandingkan Jokowi,“ tegas Amien dalam videonya di chanel Youtube Amien Rais Official, Senin, 23 Februari 2026.
Mantan Ketua PP Muhamamdiyah ini menjelaskan bahwa hal itu bisa dilihat dari dari dua kasus. Pertama, kasus pagar laut di laut perairan Tangerang yang dibuat oleh Aguan cs yang bukan saja ilegal tetapi hakikatnya menantang kedaulatan negara. Hal ini meledak Januari 2025. Pagar laut sepanjang 30,16 km yang terdiri dari bambu itu mematikan kehidupan para nelayan karena tidak bisa lagi menangkap ikan seperti sebelumnya. Pemasangan pagar laut itu untuk kepentingan mafia yang salah satu dedengkotnya adalah Aguan, namanya Sugianto Kusuma.
“Nah, dalam peristiwa ini sudah seharusnya bila Aguan cs dikenakan hukuman. Tetapi kurang ajarnya Aguan cs justru dua kali diundang Prabowo ke istana untuk ditanya-tanya mengenai dibangunnya pagar bambu sepanjang 30,16 km itu ya. Saya kira ada keterlibatan Menteri Kelautan dan Perikanan yang bernama Sakti Wahyu Trenggono. Nah, agaknya kesaktiannya tanda petik ya digunakan untuk memudahkan Aguan cs memagari laut perairan Tangerang untuk digunakan sebagai lahan usaha Agung Sedayu Grup Perusahaan Pengembang Properti dan SCBD Sudirman Central Business District. Nah, nama Sudirman ya itu bisa mengecoh masyarakat ya karena nama Pak Jenderal Sudirman itu luar biasa amat sangat besar namanya dalam sejarah Indonesia ya. Karena itu sesungguhnya lebih tepat pakai nama Wigwan ya, Jokowi Aguan Central Business District supaya lebih… kalau Wigwan gitu supaya lebih sound Chinese ya,“ papar Amien.
Lebih lanjut Amien menjelaskan bahwa satu hal yang membuat marah masyarakat luas yang mengikuti kasus pematokan sepanjang 30,16 km itu mengapa sampai sekarang tidak ada oknum penting yang dimintai tanggung jawab atas perkosaan tanah laut di perairan Tangerang itu. “Sungguh mengherankan ya. Bareskrim cuma berani memanggil orang-orang kecil yang peranannya pasti juga kecil dalam penyerobotan tanah di perairan Tangerang itu. Ternyata hanya Kepala Desa atau Pak Lurah, sekretarisnya dan dua orang penerima kuasa atas nama SP dan CE, (jadi) hanya empat oknum itu saja.“
Menurut Amien, setelah Prabowo mengundang Aguan dan kawan-kawan sampai dua kali ke istana dalam kasus penyerobotan tanah laut di Tangerang itu, ada yang aneh dalam pertemuan waktu itu yaitu Letkol Teddy Wijaya mendampingi Prabowo.
“Sebegitu pentingkah peran Teddy? Ya, ini big questionnya. Mesinya lebih tepat bila Jaksa Agung, Ketua KPK dan Mendagri yang disuruh mendampingi Prabowo misalnya ya. Sementara itu begitu akrab Prabowo dengan tokoh-tokoh mafia jahanam itu sehingga Prabowo mengundang lagi mereka ke Hambalang pada 10 Februari lalu. Yang diundang dalam pertemuan yang berlangsung 4,5 jam itu adalah Aguan Agung Sudayu Grup, Prayogo Pangestu Barito Pasifik, Antoni Salim Salim Grup, Franky Wijaya Sinarmas, dan Boy Tohir Adaro Energy. Agenda pertemuan berkisar pada tiga tema yakni (temanya) hebat. Pertama Indonesia Incorporated, kedua penciptaan lapangan kerja dan ketiga dukungan buat pertumbuhan UMKM,” jelas pakar politik ini.
Menurut Amien, dengan mengundang Aguan cs ke Hambalang ada kesan bahwa kelompok mafia oligarki itu sudah duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan Presiden Prabowo.
“Saya tidak tahu apakah hasil perbincangan berdurasi 4,5 jam itu sudah disampaikan ke publik atau baru akan disampaikan atau mungkin dirahasiakan. Wallahua’lam. Saya punya pendapat yang saya yakini sudah lama. Yaitu bila Presiden Indonesia sejak zaman Pak Harto sampai zaman sekarang ini terlalu akrab dengan mafia Indonesia, dampak negatifnya amat sangat jelas, yaitu kekuasaan yang sangat besar yang dipegang oleh presiden, pelan-pelan mulai melemah dan akan ada deal-deal politik dan ekonomi bagi dua belah pihak. Mengapa Jokowi jadi presiden yang kehilangan taji menghadapi kemauan busuk dari para mafia itu? Jelas jawabannya. Kekuasaan Jokowi sebagai presiden dengan mudah ditekuk oleh mereka dan menyebabkan Jokowi celingukan bila ditekan untuk menuruti kemauan licik mereka. Jadi ribuan triliun yang dimiliki Jokowi pribadi itu dari menari kalau bukan dari kelompok mafia laknat itu,” terangnya.
Amien melanjutkan, ”Nah, saya jadi ingat tanggal 26 Mei 2015, long time ago ya, Ahok mengatakan Jokowi tak mungkin jadi presiden tanpa bantuan para pengembang atau developers. Ini sesungguhnya bisa jadi warning, peringatan keras buat kita semua. Para pengembang dan konco-konconya itu sampai batas cukup jauh bisa menyandera Jokowi. Jokowi hanya bisa ‘tela-telo‘ menghadapi tekanan politik mereka. Hal ini mestinya menjadi pelajaran penting buat Pak Prabowo. Tetapi ternyata dijadikan pelajaran yang keliru oleh Prabowo. Mafia itu justru dijadikan partner dan dibangun sebuah partnership dengan mereka. Nah, bila benar arah kebijakan Presiden Prabowo seperti yang saya khawatirkan di atas, mungkin kita hanya bisa bersabar seperti pepatah Jawa yang berbunyi sopo wani ngalah duwur wekasane. Tetapi bisa juga berbunyi wani ngalahmu mungkin ya,“paparnya.
Meski demikian, Amien Rais masih tetap optimis Prabowo tetap bisa berubah. “Resepnya sederhana. Jangan terlalu sering bertemu dengan kaum mafia dan jangan percaya pada mereka. Jangan percaya sama sekali,” tegas pakar politik UGM ini. []
Izzadina






