NUIM HIDAYAT

Prabowo dan Soekarno Pemuja Nasionalisme (Sekuler)

Presiden Prabowo Subianto membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026 kemarin.

Dalam sambutannya, Prabowo menyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa terjadi karena adanya semangat nasionalisme.

“Sebenarnya tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme; sebetulnya tidak ada ya; bahkan mbah-mbahnya kapitalisme, guru-guru kapitalisme sekalipun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme,” kata Prabowo.

Selanjutnya, ia mengutip buku The Spirit of Capitalism karya Prof. Liah Greenfeld.

Today it is claimed we live in the period of late capitalism and possibly in the post-industrial society; yet nationalism is not gone, nor does it show any signs of being gone soon

(Saat ini dikatakan bahwa kita hidup pada masa kapitalisme akhir dan mungkin juga dalam masyarakat pascaindustri; namun, nasionalisme belum hilang dan juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera hilang).

Nationalism first appeared in England, becoming the preponderant vision of society; there the sustained growth characteristic of modern economy is not self-sustained; growth is stimulated and sustained by nationalism

(Nasionalisme pertama kali muncul di Inggris dan menjadi pandangan yang dominan dalam masyarakat; di sana, pertumbuhan berkelanjutan yang menjadi ciri khas ekonomi modern tidak berlangsung dengan sendirinya; pertumbuhan tersebut dirangsang dan dipertahankan oleh nasionalisme).

Ideologi nasionalisme sekuler yang dianut Prabowo ini mirip dengan paham yang dianut oleh Soekarno.

Presiden pertama Indonesia tersebut juga selalu mengagungkan nasionalisme dalam berbagai kesempatan. Bagi Soekarno, nasionalisme adalah segalanya.

Oleh karena itu, ia pun merangkul tokoh-tokoh komunis ke dalam pemerintahannya ketika melihat sebagian rakyat Indonesia berpaham komunisme.

Soekarno dan Prabowo memang sama-sama mengagungkan sosok Kemal Ataturk. Pemimpin Turki tersebut terkenal anti-Islam, mengagungkan sekularisme, dan berperan besar dalam menghancurkan Khilafah Islamiah di Turki.

Ideologi nasionalisme sekuler Soekarno ini pernah dikritik keras oleh tokoh Islam, Haji Agus Salim. Menurut Agus Salim, kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Tuhan dan nilai-nilai Islam, bukan kepada bangsa.

Ia khawatir nasionalisme ala Eropa tersebut akan berubah menjadi fanatisme kebangsaan (chauvinisme) yang membuat bangsa dipuja secara berlebihan.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button