#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Ranjau di Selat Hormuz

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

“If Iran has put out any mines in the Hormuz Strait, and we have no reports of them doing so, we want them removed, IMMEDIATELY!”

(Jika Iran telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz, dan kami tidak memiliki laporan tentang hal itu, kami ingin mereka segera MEMINDAHKANNYA!)

Demikian ancaman Presiden Donald Trump di Truth Social pada 11 Maret 2026. Ancaman ini muncul setelah dua sumber intelijen AS mengkonfirmasi bahwa Iran mulai memasang ranjau di jalur pelayaran yang membawa seperlima pasokan minyak dunia.

Mengapa Iran memilih ranjau? Jawabannya terletak pada asimetri kekuatan. Ranjau laut sangat murah. Sekitar US$1.500 per unit (sekitar Rp25.276.500 dalam kurs Rp16.851) harganya. Tapi, dampaknya sangat mematikan.

Sejak 1950, ranjau telah menyebabkan 77 persen korban kapal AS. Dengan ekonomi yang terhimpit sanksi, Iran tak bisa membangun armada sebesar AS, tapi mereka memiliki 2.000 hingga 6.000 ranjau, seperti dilaporkan James LaPorta di CBS News. Dengan ribuan kapal kecil Garda Revolusi, mereka bisa mengubah Selat Hormuz menjadi ladang ranjau raksasa dalam hitungan hari.

Sebenarnya, ini bukan taktik baru. Pada April 1988, USS Samuel B. Roberts pernah menabrak ranjau Iran buatan Perang Dunia I (sekitar 1914-1918) yang merobek lubang 8 meter di lambung kapal. Kini, IRGC menyebut selat itu sebagai “lembah kematian” (death valley), karena salah jalan bisa mati. Dalam kondisi itu, perusahaan asuransi akhirnya menarik diri, kemudian hampir 15 juta barel minyak per hari terdampar, dan harga minyak jadi berfluktuasi sangat liar.

Untuk memahami soal ranjau ini, penting untuk merujuk William L. Greer dan Komandan James Bartholomew dalam “The Psychology of Mine Warfare” (U.S. Naval Institute Proceedings, Februari 1986). Menurut mereka, “Minefields are like twilight zones—they work more on human minds than on the ships themselves” (Ladang ranjau itu seperti zona senja—ia lebih bekerja pada pikiran manusia daripada pada kapal itu sendiri). Jadi, ladang ranjau bekerja ternyata ‘lebih pada pikiran daripada sekadar kapal.’

Mereka mengilustrasikan dengan contoh historis. Di Haiphong, Vietnam Utara (1943), hanya tiga ranjau berhasil menutup pelabuhan selama perang. Di Palau, Samudra Pasifik (1944), 32 kapal Jepang memilih tetap di pelabuhan dan 23 di antaranya tenggelam dalam serangan udara. Pada 1972 di Haipong pernah ada 36 ranjau yang cukup menghentikan lalu lintas kapal selama 300 hari. Kita kutip dari Greer dan Bartholomew (1986) sebagai berikut:

“Vietnam Utara, 1972: Pada Mei 1972, ranjau ditempatkan di pelabuhan-pelabuhan Haiphong, Hon Gay, dan Cam Phon. Ladang ranjau pertama terdiri dari 36 ranjau di Haiphong. Ranjau-ranjau ini dijatuhkan oleh pesawat terbang di bawah pengamatan musuh dan tembakan antipesawat. Presiden Richard M. Nixon mengumumkan bahwa ranjau telah berada di perairan. Lalu lintas kapal berhenti. Hanya beberapa ranjau yang telah mendorong keputusan untuk menghentikan pengiriman di Haiphong. Pelabuhan tersebut tetap ditutup selama 300 hari.”

Kesimpulannya, menurut Greer dan Bartholomew, “Mines can sink ships, and that capability makes their threat credible. But the real effect of a minefield derives from the more subtle influence of an exaggerated fear.” Ranjau dapat menenggelamkan kapal, dan kemampuan itu membuat ancamannya kredibel. Namun efek sesungguhnya dari ladang ranjau menurut mereka, berasal dari pengaruh yang lebih halus berupa ‘ketakutan yang berlebihan.’ Artinya, faktor ‘psikologi ketakutan’ tadi punya pengaruh signifikan dalam kesuksesan misi ranjau tersebut.

Dalam krisis di Selat Hormuz, ada tiga dimesi yang relevan dalam hal ini: strategis, ekonomi dan psikologis. Dari dimensi strategis, ranjau adalah penyeimbang yang memaksa AS mengerahkan sumber daya besar. Dari dimensi ekonomi, Selat Hormuz adalah urat nadi dunia; gangguannya langsung memicu volatilitas harga minyak. Dari dimensi psikologis, ranjau bekerja pada pikiran: kapal tidak berani melintas bukan karena pasti ada ranjau, tetapi karena kemungkinan adanya ranjau sudah cukup menghentikan pelayaran.

Kalau bisa kita ibaratkan, Selat Hormuz saat ini seperti ‘ular tangga geopolitik.’ Iran menaiki tangga dengan ranjau yang murah, cepat, tapi sulit diatasi. AS meluncur ke bawah dengan ancaman dan serangan, tetapi harus kembali lagi karena ranjau baru terus dipasang. Siapa yang akan memenangkan permainan ini? Kita masih lihat perkembangan dalam ‘permainan ular tangga’ tersebut.[]

Back to top button