Pete Hegseth Membawa “Perang Salib Amerika” ke Perang Melawan Iran
Menteri Pertahanan Pete Hegseth membingkai perang Amerika Serikat melawan Iran melalui keyakinan nasionalisme Kristen yang ekstrem, memadukan iman, simbolisme Perang Salib, dan kebijakan militer dalam pendekatan yang sangat kontroversial.
Menteri Perang Pete Hegseth menggambarkan agresi militer AS terhadap Iran melalui sudut pandang yang menggabungkan nasionalisme Kristen, nubuat Alkitab, dan strategi militer, yang menimbulkan kekhawatiran tentang politisasi agama di Pentagon.
Dalam wawancara dengan CBS News, Hegseth menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak boleh diragukan dalam perang melawan Iran karena adanya dukungan ilahi: “Kapabilitas kami lebih baik. Tekad kami lebih kuat. Pasukan kami lebih baik. Pemeliharaan dari Tuhan Yang Mahakuasa ada di sana melindungi pasukan itu, dan kami berkomitmen pada misi ini.”
Ia membingkai retorika perang dengan citra religius, menggambarkan para pemimpin Iran sebagai “fanatik agama” yang ambisinya terkait dengan visi apokaliptik. Ia mengatakan kepada CBS: “Pasukan membutuhkan hubungan dengan Tuhan Yang Mahakuasa mereka pada saat-saat seperti ini.”
Hegseth bahkan mengutip Kitab Mazmur pasal 144 dalam konferensi pers di Pentagon: “Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang melatih tanganku untuk berperang dan jari-jariku untuk bertempur.”
Ia mengirim pasukan ke perang yang ia klaim sebagai “rencana ilahi Tuhan”, memicu ratusan keluhan tentang retorika semacam itu yang “menghancurkan moral dan kohesi unit” serta melanggar sumpah konstitusional yang diambil oleh semua personel militer.
Baca juga: Pete Hegseth, Perang Salib di Pentagon
Tato, Perang Salib, dan simbolisme pribadi
Citra pribadi Hegseth memperkuat pandangan dunianya yang ekstrem. Tato-tatonya mencakup Salib Yerusalem dan frasa Latin “Deus Vult” (“Tuhan Menghendakinya”), yang merujuk pada Perang Salib.
Ia menulis tentang simbol-simbol ini dalam bukunya tahun 2020, American Crusade, yang menggambarkan aksi militer AS modern sebagai kelanjutan dari perang-perang Kristen dalam sejarah.
Ia mengakui bahwa tato-tato tersebut menimbulkan kontroversi, termasuk ketika ia dilabeli ekstremis dan tidak diundang dari tugas unitnya pada pelantikan Joe Biden pada tahun 2021. Simbolisme yang berakar pada perang agama abad pertengahan ini menegaskan kecenderungannya melihat konflik kontemporer dalam kerangka religius yang sangat tajam.
Dalam American Crusade, Hegseth menggambarkan perlawanan terhadap kelompok Islamis sebagai perjuangan moral dan spiritual yang menggemakan Perang Salib. Ia menggambarkan sebuah “momen perang salib” di mana orang Amerika, bersama Israel, harus melawan Islam secara budaya, politik, geografis, dan militer.
“Kami tidak ingin berperang, tetapi seperti sesama umat Kristen seribu tahun lalu, kami harus melakukannya,” tulisnya.
Hegseth berpendapat bahwa Islam telah berperang dengan musuh-musuhnya sejak berdiri, dan memperingatkan bahwa toleransi Barat memungkinkan kekuatan ekstrem tumbuh. Tulisan-tulisannya menggambarkan geopolitik sebagai perjuangan kosmis, seolah intervensi militer Amerika dibenarkan secara ilahi.






