Perang Iran, ‘Sekolah Militer’ bagi Korea Utara
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.
Dalam perang Iran, Korea Utara sudah pasti mencatat setiap pelajaran berharga. Ribuan kilometer dari Timur Tengah, di Pyongyang yang terkepung, Kim Jong Un dan elite-nya tentu membaca peta perang dengan saksama.
Bagi Korea Utara, perang ini kelihatannya bukan sekadar berita asing. Perang ini adalah cermin, peringatan, dan pembenaran atas pilihan strategis yang telah mereka ambil sejak lama, yang bisa jadi suatu saat mereka hadapi juga.
Jaminan Senjata Nuklir
Pelajaran paling gamblang dari perang Iran adalah kegagalan strategi “ambang batas” nuklir. Iran, dengan pengayaan uranium dan program nuklirnya yang tertunda, tetap diserang. Ioritz Abecia Bermudez dalam tulisannya di Eurasia Review (4 Maret 2026) mencatat bahwa Pyongyang melihat begini: “setengah-setengah dalam pengembangan nuklir adalah kesalahan fatal.” Iran dihancurkan bukan karena mengejar bom, tapi karena belum memilikinya saat dibutuhkan.
Vann H. Van Diepen di 38 North (16 Maret 2026) menegaskan bahwa ‘senjata nuklir memberikan perlindungan nyata’ dalam mencegah serangan. Ia menulis bahwa kasus Iran menunjukkan kepada Korea Utara nilai senjata nuklir yang dikerahkan untuk mencegah potensi serangan dari Amerika Serikat. Pyongyang telah lama menyimpulkan hal yang sama dari nasib Libya dan Irak. Kini Iran menambah daftar panjang negara yang menjadi kisah dan pelajaran untuk diingat.
Bagi Korea Utara, ini membenarkan kebijakan “irreversible” (sesuatu yang tak dapat diubah) yang mereka tempuh. Dengan hulu ledak yang sudah dipasang pada ICBM yang mampu mencapai daratan AS, Pyongyang percaya mereka telah melewati titik yang membuat musuh berpikir dua kali. Al Jazeera (11 Maret 2026) melaporkan bahwa Kim baru-baru ini berbicara tentang bagaimana memperluas pencegah nuklir yang kuat dan dapat diandalkan, sebuah pernyataan yang kini mendapat pembenaran baru dari reruntuhan Tehran.
Dekapitasi Bisa Terjadi Kapan Saja
Kematian Ali Khamenei di hari pertama perang mengirim getaran ke seluruh Pyongyang. Pemimpin tertinggi Iran, simbol negara sekaligus komando tertinggi, tewas dalam hitungan jam setelah perang dimulai. Liang Tuang Nah di Asia Times (17 Maret 2026) menulis bahwa “ketakutan akan dekapitasi” (pembunuhan pimpinan tertinggi) kini menjadi mimpi buruk baru bagi Kim Jong Un. Iran menunjukkan bahwa tidak ada pemimpin yang aman, bahkan di ruang bawah tanah sekalipun, jika intelijen musuh cukup akurat.
Van Diepen mencatat bahwa Korea Utara mungkin sudah mulai memperbarui dan menyempurnakan protokol perlindungan kepemimpinan menyusul keberhasilan serangan Israel di Timur Tengah. Pyongyang telah lama bersiap menghadapi skenario ini, mengembangkan sistem komando terdesentralisasi, prosedur balasan otomatis, dan jaringan bunker yang rumit. Namun perang Iran membuktikan bahwa persiapan mungkin tidak cukup. Yang diperlukan adalah kepastian bahwa balasan akan datang seketika dan menghancurkan.
Eurasia Review mencatat bahwa Pyongyang baru-baru ini mengesahkan hak untuk melakukan serangan nuklir pre-emptif—sebuah kebijakan yang dirancang untuk mencegah skenario Iran terjadi di Semenanjung Korea. “Jika Iran memiliki ICBM dan hulu ledak kecil yang sekarang dipamerkan Korea Utara,” tulis Abecia Bermudez, “AS dan Israel tidak akan pernah berani menyerang jantung Tehran.”
Isolasi yang Memperkuat
Sehari sebelum kematiannya, Ali Larijani mengecam negara-negara Islam yang “meninggalkan Iran.” Ia mengutip sabda Nabi tentang kewajiban membantu sesama Muslim, namun tak satu pun negara Islam berdiri di samping Tehran. Bahkan Presiden UEA Mohammed bin Zayed secara terbuka menyebut Iran sebagai “musuh.” Pahit, tapi bagi Korea Utara, ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
Pyongyang justru membaca isolasi Iran sebagai peluang. Dengan AS terfokus ke Timur Tengah, mereka menggelar uji coba rudal dari kapal perang terbaru mereka, Choe Hyon. Al Jazeera melaporkan bahwa Kim secara pribadi mengawasi uji coba rudal jelajah strategis tersebut, menegaskan pentingnya “memperluas pencegah nuklir.” Liang Tuang Nah mencatat bahwa “Pyongyang akan memanfaatkan situasi, tetapi bukan melalui petualangan militer yang ceroboh.” Ini adalah oportunisme yang diperhitungkan, bukan agresi bunuh diri.
Van Diepen menyimpulkan bahwa Korea Utara akan “meningkatkan jumlah rudal dalam inventaris” untuk mengimbangi ancaman terhadap peluncur bergerak dan efektivitas pertahanan rudal sekutu. Mereka juga akan memperdalam kerja sama dengan Rusia dan China, dua negara yang kini menjadi penyeimbang kekuatan AS. Dalam ketidakpedulian dunia, Pyongyang menemukan kebebasan untuk membangun.
Pelajaran bagi Korea Utara
Perang Iran tidak mengubah strategi Korea Utara. Ia hanya memperkuat keyakinan yang sudah ada. Bahwa dunia adalah rimba di mana yang kuat memangsa yang lemah. Bahwa diplomasi tanpa rudal adalah omong kosong. Bahwa satu-satunya bahasa yang dipahami Washington adalah bahasa hulu ledak.






