#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Ironi Perang dan Ancaman Nuklir di Timur Tengah

Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate.

Pernyataan Hanan Balkhy, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, kepada Politico (17 Maret 2026) membuka tabir gelap yang selama ini tersembunyi di balik hingar-bingar strategi militer perang Iran, yakni kekhawatiran akan bencana nuklir. “Skenario terburuk adalah insiden nuklir,” katanya, “dan konsekuensinya akan berlangsung selama puluhan tahun.”

Pengakuan ini bukan sekadar peringatan biasa, melainkan cermin dari kegagalan kolektif para pemimpin dunia dalam mengendalikan konflik. Ketika para jenderal dan politisi sibuk menghitung keuntungan strategis, para pejabat kesehatan justru bersiap menghadapi mimpi buruk yang mungkin tidak pernah bisa mereka tangani.

Ironi Klaim Keamanan Nuklir

Klaim Presiden Trump bahwa serangannya ke Iran bertujuan ‘menghilangkan ancaman nuklir Iran’ mengandung ironi mendasar. Hingga saat ini, tidak ada bukti yang diajukan bahwa Tehran sedang mengembangkan senjata nuklir. Sebaliknya, fasilitas-fasilitas nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz justru menjadi sasaran serangan. Dengan kata lain, untuk mencegah proliferasi nuklir, AS dan Israel justru menciptakan kondisi yang dapat memicu kebocoran radioaktif atau bahkan mendorong Iran untuk benar-benar mengejar bom sebagai bentuk balasan.

Ironisnya lagi, negara yang paling mungkin memiliki senjata nuklir di kawasan itu justru luput dari perhatian. Israel secara luas diyakini memiliki arsenal nuklir yang signifikan, namun tidak pernah menjadi sasaran investigasi atau sanksi internasional. Standar ganda ini semakin memperkuat persepsi di dunia bahwa kebijakan non-proliferasi hanya berlaku bagi negara-negara tertentu, sementara sekutu AS dibiarkan leluasa mengembangkan persenjataan pemusnah massal.

Bahkan di lingkaran dalam pemerintahan Trump sendiri, kekhawatiran akan penggunaan senjata nuklir mulai muncul. David Sacks, penasihat presiden untuk urusan AI, secara terbuka menyatakan kegelisahannya tentang kemungkinan Israel mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir. Meskipun Trump dengan cepat membantah pernyataan ini, fakta bahwa seorang pejabat tinggi AS merasa perlu mengkhawatirkan hal tersebut menunjukkan betapa dekatnya kawasan ini dengan jurang kehancuran nuklir.

Pelajaran Sejarah yang Terabaikan

Sejarah telah mencatat dampak mengerikan dari senjata nuklir ketika digunakan terhadap populasi sipil. Merujuk dokumentasi dalam arsip National Security Archive yang diedit oleh William Burr (25 September 2025), menjelaskan bahwa bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 menewaskan antara 110.000 hingga 210.000 jiwa.

Namun yang lebih mengerikan adalah penderitaan panjang yang dialami para korban selamat akibat radiasi. Laporan “Final Report” dari Manhattan Project’s Investigative Group pada April 1946 mengungkapkan bahwa sekitar 33 persen pasien yang dirawat di rumah sakit menunjukkan efek radiasi, dan setengah dari mereka meninggal dunia.

Menariknya, dokumen-dokumen yang baru dideklasifikasi tersebut mengungkapkan bagaimana para pemimpin Manhattan Project awalnya berusaha mengabaikan kenyataan pahit tentang penyakit radiasi. Jenderal Leslie Groves, direktur Manhattan Project, dengan sinis menyebut penyakit radiasi sebagai ‘cara yang menyenangkan untuk mati’ dalam kesaksiannya di hadapan Senat.

Groves bahkan menginstruksikan bawahannya untuk membantah laporan-laporan dari Jepang tentang ‘penyakit radiasi’ sebagai ‘propaganda’ semata. Sikap denial ini persis sama dengan yang kita lihat hari ini ketika para pemimpin dunia mengabaikan peringatan tentang konsekuensi nuklir dari perang yang mereka lancarkan.

Merujuk pada Hanan Balkhy, kita harus belajar dari kasus Chernobyl yang menyebabkan ribuan kasus kanker tiroid. Ia juga merujuk pada temuan Komisi Bersama Investigasi Efek Bom Atom yang kemudian berkembang menjadi Atomic Bomb Casualty Commission (ABCC).

Lembaga ini menemukan bahwa korban yang terpapar radiasi mengalami peningkatan insiden leukemia dan berbagai bentuk kanker lainnya selama beberapa dekade setelah ledakan. Dengan kata lain, ketika Balkhy mengatakan bahwa konsekuensi bencana nuklir ‘akan berlangsung selama puluhan tahun’, sesungguhnya ia berbicara berdasarkan bukti historis yang tak terbantahkan.

Keterbatasan Sistem Kesehatan di Hadapan Bencana

Pengakuan Balkhy bahwa ‘tidak ada yang dapat mencegah bahaya yang akan datang’ adalah refleksi paling jujur tentang keterbatasan manusia di hadapan bencana nuklir. Sistem kesehatan global, secanggih apa pun, tidak dirancang untuk menangani dampak radiasi massal. Dampak kesehatan dari perang konvensional juga sudah nyata dan mengkhawatirkan. Di Lebanon, sistem kesehatan yang sudah rapuh kini kolaps di bawah tekanan hampir satu juta pengungsi. Di Gaza, 46 persen obat-obatan esensial habis sama sekali.

Hal yang paling memprihatinkan adalah ketidakseimbangan prioritas para pemimpin dunia. Ketika organisasi kesehatan internasional harus bersiap menghadapi bencana nuklir, para pemimpin negara justru sibuk menghitung keuntungan geopolitik dan strategis.

Tidak ada ruang dalam kalkulasi mereka untuk menghitung berapa banyak nyawa yang akan melayang, berapa banyak anak yang akan kehilangan orang tua, atau berapa lama trauma akan menghantui generasi yang selamat.

Seperti dicatat dalam laporan British Government pada Januari 1946 yang baru dideklasifikasi, masalah ‘perlindungan terhadap korban radiasi gamma secara khusus sangat serius dan sulit.’ Pernyataan yang sama relevannya hari ini.

1 2Laman berikutnya
Back to top button