RESONANSI

Nama Baik, Nasib Buruk? Doa yang Tersandung di Jalanan

Seindah apa pun namamu, ia tetaplah sebuah janji. Dan janji hanya akan bernilai jika ia ditepati.

Adegan yang Terlalu Cepat

Sebuah video reels melintas di linimasa. Gambarnya berguncang, pixelnya pecah, namun suaranya jernih menangkap amuk. Dua pemuda tersungkur di aspal, dikepung sepatu dan kepalan tangan. Mereka adalah penjambret yang baru saja kalah oleh kecepatan massa.

“Namamu siapa?!” teriak sebuah suara parau dari balik kamera.

“Mu… Muhammad…,” jawab yang satu, suaranya tercekat darah dan debu.

“Yang satu lagi?!”

“Abdullah…”

Sepersekian detik, suasana hening. Bukan karena kasihan, tapi karena ironi yang mendadak menyeruak. Lalu seseorang menyambar, suaranya lebih tajam dari bogem mentah yang baru saja mendarat:

“Nama bagus, kelakuan iblis!”

Tawa meletup. Sebagian getir, sebagian puas. Kamera ponsel tetap menyala, merekam sisa-sisa amarah yang belum tuntas. Dua pemuda itu babak belur—hakim jalanan telah menjatuhkan putusan jauh sebelum hukum negara sempat menyentuh. Adegan itu pendek, tapi seperti serpihan kaca, ia menancap lama di kepala.

Nama Adalah Sebuah Peta

“Kasih nama yang baik. Itu doa.”

Kalimat itu adalah dogma tak tertulis di setiap sudut negeri ini. Di ruang bersalin yang wangi alkohol, di surau yang tenang, hingga di ruang tamu tempat keluarga besar berunding; nama dipilih bukan sekadar karena estetika rima. Ia adalah wadah harapan yang dipersiapkan bahkan sebelum si pemilik nyawa menghirup udara.

“Kalau laki-laki, Muhammad saja. Biar akhlaknya setinggi langit,” kata seorang kakek dengan binar mata penuh harap.

“Abdullah juga bagus. Hamba Allah. Biar lurus jalannya, biar tunduk hatinya,” sahut yang lain.

Nama menjadi semacam peta masa depan—garis halus yang diharapkan akan diikuti pemiliknya secara naluriah. Dalam tradisi, nama bukan perkara sepele; ia adalah jimat, ia adalah identitas, ia adalah “panggilan” yang diharapkan akan dijawab oleh takdir. Sejak itu, jutaan “Muhammad” dan “Abdullah” lahir. Mereka tumbuh dengan beban ekspektasi yang disematkan di akta kelahiran.

Tapi hidup, sering kali, punya rencana sendiri yang tidak mencantumkan peta dari orang tua kita.

Ketika Nama Gagal Menjadi Perisai

“Jadi, nama bagus itu jaminan surga?” tanya seseorang dalam sebuah obrolan warung kopi yang mengepul.

“Kalau iya, penjara nggak akan penuh dengan orang-orang bernama religius,” jawab temannya singkat, sambil menyesap kopi hitamnya.

Percakapan itu berakhir dengan tawa kecil, namun menyisakan lubang kegelisahan. Realitas sering kali membantah harapan dengan cara yang kasar. Nama yang baik tidak otomatis menginstal perilaku yang baik ke dalam sistem saraf seseorang.

Di kantor, di kampus, hingga di trotoar jalanan—kita menemukan ironi kecil setiap hari. Kita bertemu sosok bernama “Aman” yang hidupnya penuh kecemasan. Kita melihat “Saleh” yang justru akrab dengan tipu daya. Kita mengenal “Bijak” yang sering kali gegabah dalam mengambil keputusan.

Dan di video itu, “Muhammad” dan “Abdullah” tergeletak dalam kesalahan yang terang-benderang. Nama mereka, yang seharusnya menjadi perisai dari perbuatan nista, justru menjadi pisau bermata dua yang membuat penghakiman massa terasa lebih “sah” karena adanya “pengkhianatan” terhadap makna.

1 2Laman berikutnya
Back to top button