RESONANSI

Nama Baik, Nasib Buruk? Doa yang Tersandung di Jalanan

Label yang Menjadi Beban

Nama bukan sekadar identitas; ia adalah label sosial. Dalam psikologi, dikenal istilah labeling effect—bagaimana sebuah sebutan memengaruhi cara dunia memandang kita, dan cara kita memandang cermin.

“Jika seseorang diberi nama ‘Cerdas’, orang akan menuntutnya untuk tidak pernah salah. Jika ia gagal, harganya jauh lebih mahal dibanding orang tanpa nama itu,” ujar seorang dosen dalam sebuah diskusi.

Nama bisa menjadi angin buritan yang mendorong kapal, tapi ia juga bisa menjadi jangkar yang menenggelamkan. Saya teringat seorang kawan lama dari suku Batak. Namanya “Tahi”. Dalam bahasanya, Tahi berarti niat, rencana, atau cita-cita luhur. Namun, ia tumbuh di lingkungan yang memaknai kata itu sebagai kotoran.

Setiap kali ia memperkenalkan diri di depan kelas, selalu ada jeda yang menyakitkan.

“Maaf… siapa?” tanya dosen, berusaha menjaga wibawa.

“Tahi, Pak.”

Kelas pecah. Ada yang tertunduk menahan tawa, ada yang terang-terangan mengejek. Kawan saya tidak pernah memilih namanya, namun ia menghabiskan separuh hidupnya untuk membela nama itu, menjelaskan maknanya berulang kali, seolah-olah ia sedang meminta maaf atas sesuatu yang sebenarnya adalah doa dari orang tuanya. Di sana, nama bukan lagi doa yang menenangkan, melainkan ujian sosial yang melelahkan.

Relativitas dan Tafsir yang Tak Adil

Nama tidak hidup dalam ruang hampa. Ia hidup dalam tafsir budaya dan bahasa yang cair. Apa yang suci di satu tanah, bisa jadi bahan olok-olok di tanah lain.

Masalahnya, masyarakat kita sering kali menuntut keselarasan mutlak antara label dan perilaku. Ketika seseorang dengan nama religius berbuat salah, kemarahan kita berlipat ganda. Kita merasa dia tidak hanya melanggar hukum, tapi juga menodai simbol. Kita menghakimi “Muhammad” si penjambret lebih keras daripada penjambret tanpa nama religius, seolah-olah nama itu adalah milik kolektif yang dikotori oleh pribadinya.

Padahal, siapakah yang memilih nama? Orang tua.

Lalu siapa yang memilih jalan hidup? Dia sendiri.

Garis ini sering kali kabur. Kita menghukum manusianya sambil meludahi simbolnya, padahal simbol itu sendiri tidak pernah bisa berbuat dosa.

Antara Kompas dan Langkah Kaki

“Jadi, apakah nama itu akhirnya tidak penting?” tanya seorang pemuda, tampak bingung.

“Nama itu penting,” jawab seorang guru tua dengan lembut. “Tapi ia bukan penentu tunggal.”

Nama adalah kompas. Ia menunjukkan arah utara yang seharusnya. Namun, kompas tidak pernah menjamin bahwa perjalanan akan bebas dari kerikil atau lubang. Banyak orang yang memegang kompas emas namun tetap memilih masuk ke hutan belantara. Banyak pula mereka yang memulai perjalanan tanpa peta, namun langkah kakinya menuntun mereka ke puncak gunung yang agung.

Kita sering kali terlalu sibuk mengurusi “bungkus” hingga lupa pada “isi”. Kita terlalu berharap pada bunyi, dan terlalu cepat kecewa pada kenyataan. Kita lupa bahwa manusia tidak dibentuk oleh satu kata di atas kertas, melainkan oleh ribuan keputusan kecil, jutaan helaan napas, dan tumpukan pilihan yang ia ambil setiap hari.

Mengisi Wadah yang Kosong

Video penjambret itu mungkin sudah tertimbun oleh algoritma baru. Tapi kalimat itu tetap menggema: “Nama bagus, kelakuan iblis.”

Mungkin, cara pandang kita yang perlu diperbaiki. Kita tidak perlu lagi bertanya mengapa sebuah nama tidak sesuai dengan perilaku pemiliknya. Alih-alih begitu, kita seharusnya bertanya: Bagaimana perilaku kita hari ini bisa memberi arti pada nama yang kita sandang?

Nama adalah wadah kosong yang diberikan saat kita lahir. Isinya adalah apa pun yang kita lakukan setelah kita bisa melangkah sendiri. Pada akhirnya, bukan nama yang mengangkat derajat manusia. Melainkan manusianya—dengan segala peluh dan pilihan hidupnya—yang menentukan apakah namanya akan dikenang sebagai doa yang hidup, atau sekadar gema kosong yang hilang ditelan bisingnya jalanan.

Sebab, seindah apa pun namamu, ia tetaplah sebuah janji. Dan janji hanya akan bernilai jika ia ditepati. []

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button