IBADAH

Miskonsepsi Hubungan Ibadah dan Rezeki

“Sudah rajin ibadah tapi hidup masih saja miskin dan susah”. Pernyataan ini tak asing di telinga. Bisa jadi pernyataan ini sebagai luapan emosi yang ‘menggugat’ ibadah. Karena tak melihat ada signifikansi ibadah pada kehidupan ekonominya.

Juga bisa jadi pernyataan ini ‘merendahkan’ ibadah. Karena melihat realita, tak sedikit yang rajin ibadah hidupnya miskin dan susah. Sedangkan standar kebahagiaan versinya adalah kekayaan. Bahkan sesumbar menyatakan “untuk apa ibadah, lebih baik tak ibadah, toh hidup bisa kaya tanpa harus capek ibadah”.

Di sisi lain, berseliweran ceramah-ceramah Islam yang menyampaikan bahwa shalat inti amalan yang mengantarkan pada kesuksesan dan kebahagiaan. Baik pada pekerjaan, karir maupun rumah tangga. Bahkan ibadah tertentu (puasa, sedekah, wirid) dianggap dapat membuka dan melancarkan rezeki. Tak sedikit yang mengamalkannya. Tapi yang terjadi acap kali tak ada perubahan, realita hidup tetap dalam kemiskinan dan kesusahan.

Lantas bagaimana menyikapi hal ini?

“Al ‘ilmu nuurun”. Ya butuh ilmu (tsaqafah) yang sahih dalam menyikapi hal di atas. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi kegelapan dan kebodohan. Salah pemahaman ilmu terkait ibadah dan rezeki, berakibat salah pegangan dan amal, kehidupan pun menjadi kacau dan binasa.

Rezeki Pemberian Allah dan Ibadah untuk Allah

Rasulullah saw adalah hamba Allah Swt yang paling takwa di muka bumi. Tapi Rasulullah saw pernah mengikatkan kain berisi batu pada perutnya yang kempis, lantaran menahan lapar yang sangat. Pernah keluarga Rasulullah saw tak bisa masak di dapurnya selama sebulan lantaran tak punya uang. Khadijah istri Rasulullah saw saat menyusui putrinya Fatimah, bukan air susu yang keluar tapi darah lantaran tak ada asupan makanan. Ya inilah secuil gambaran kesulitan ekonomi Rasulullah saw dan keluarganya.

Realita kehidupan ekonomi Rasulullah saw dan keluarga menjelaskan bahwa tak ada linear ibadah dengan rezeki. Artinya tak benar yang mengatakan semakin rajin ibadah (takwa) semakin lancar rezekinya atau sebaliknya. Karena kalau ada linearitas antara ibadah dan rezeki, seharusnya Rasulullah saw dan keluarganya lah yang paling banyak rezekinya dibandingkan lainnya. Orang kafir harusnya miskin, tak ada yang kaya. Tapi realitanya tak lah demikian.

Kata rezeki berasal dari bahasa Arab yaitu ar-rizqu. Secara bahasa bermakna sama dengan al-a’tha (pemberian) dan al-hazhzhu (bagian yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain). Dapat diartikan rezeki adalah pemberian yang dikhususkan untuk dirinya tanpa ada bagian orang lain. Kepastian yang memberi rezeki setiap makhluk hanyalah Sang Pencipta. Allah Swt berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ٱللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al Ankabut ayat 60).

Rezeki setiap manusia sudah ditetapkan Allah Swt sejak berada dalam rahim berusia 120 hari. Artinya rezeki sudah tertakar atas ilmu Allah. Selama hidup, manusia akan membawa rezeki masing-masing, tak akan tertukar. Jika ajal datang berarti rezeki yang ditetapkan sudah habis.

Tak akan berubah kadar ketetapan rezeki manusia ketika hidup di dunia. Artinya usaha atau ibadah tak mengubah kadar rezeki. Usaha manusia (bekerja) bukanlah yang mendatangkan rezeki. Tapi hanya menjemput rezeki yang sudah Allah tetapkan. Allah Swt akan menghisab setiap usaha manusia dalam menjemput rezekinya.

Pun dengan ibadah, tak akan menambah atau mengurangi sedikitpun kadar rezeki yang ditetapkan. Ibadah hakikatnya adalah amal taqdis (pensucian) hamba pada Sang pencipta. Ibadah haruslah diniatkan sebagai ta’abbud (penyembahan), ta’dzhim (pengagungan) dan ihtiram (penghormatan) pada Allah Swt.

Qimah (nilai) ibadah adalah qimah ruhiyah (spiritual). Yaitu mendekatkan diri pada Allah Swt untuk mendapatkan ridha dan perlindunganNya serta terjauhkan dari kemurkaanNya. Untuk mendapatkan syurgaNya dan terjauhkan dari nerakaNya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button