Sambut Baik Gencatan Senjata AS-Iran, HNW: Hentikan Juga Serangan ke Palestina dan Buka Al-Aqsha
Jakarta (SI Online) – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Hidayat Nur Wahid menyambut baik sukses Pakistan hadirkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Gencatan senjata itu, diharapkan dapat menghindarkan terjadinya perang dunia ketiga, menyelamatkan dunia dari krisis ekonomi global, menjaga tetap terselenggaranya ibadah haji dan keselamatan calon jemaah haji, dan menghindarkan rakyat sipil agar tak makin banyak korban berjatuhan. Wajar bila keberhasilan awal prakarsa Pakistan itu didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Uni Eropa dan masyarakat Internasional lainnya.
Hidayat mengusulkan agar gencatan senjata itu benar-benar efektif hadirkan perdamaian di kawasan, maka agar dalam pembahasan lanjutan di Islamabad pada 10 April 2026, selain mencakup penghentian serangan terhadap Lebanon oleh Israel, juga mencakup penghentian serangan ke negara-negara Teluk, serta penghentian serangan Israel atas Palestina (Gaza, West Bank dan penghentian penutupan Masjid Al-Aqsha).
“Poin-poin tersebut sangat krusial agar gencatan senjata dapat terlaksana dengan maksimal, dan perdamaian benar-benar terwujud, maka seharusnya poin-poin itu dapat menjadi bahasan penting dalam negosiasi lanjutan yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 10 April 2026,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Pria yang akrab disapa HNW itu mengatakan poin-poin penting tersebut perlu dijadikan bahan tambahan untuk dibahas dan dipermanenkan dalam negosiasi lanjutan selain 10 poin proposal yang disampaikan oleh Iran sebagai basis dari negosiasi dengan Amerika Serikat tersebut.
“Jadi, gencatan senjata bukan hanya antara AS dan Iran dan meliputi Lebanon, tapi juga meliputi Negara-Negara Teluk yang juga terdampak langsung akibat dari saling serang antara AS/Israel dan Iran. Itulah yang secara terbuka juga disuarakan oleh Kemenlu Qatar, Arab Saudi, Kuwait dan Oman,” ujarnya.
“Selain itu, karena terus berlangsungnya serangan Israel atas Gaza, West Bank dan Penutupan Masjid Al-Aqsha, maka gencatan senjata itu juga perlu secara definitif juga meliputi penghentian serangan bersenjata atas Palestina dan penghentian Israel yang terus menutup Masjid Al Aqsha. Usulan ini juga telah disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Palestina,” tambahnya.
HNW berharap agar Pemerintah Indonesia yang sudah mendeklarasikan kesiapan menjadi mediator perdamaian itu, dapat membantu mensukseskan prakarsa Pakistan hadirkan perdamaian/gencatan senjata antara AS-Iran.
“Agar perdamaian dapat benar-benar terwujud bukan hanya antara AS dan Iran, tapi juga secara menyeluruh, selain gencatan senjata itu mencakup Lebanon, juga mencakup negara-negara Teluk dan Palestina termasuk untuk pembukaan kembali masjid Al-Aqsha,” tukasnya.
Lebih lanjut, HNW mengatakan meski Indonesia secara geografis tidak berbatasan langsung dengan Iran, sebagaimana Pakistan, bukan berarti Indonesia tidak bisa memainkan perannya dalam mewujudkan perdamaian dunia yang abadi sesuai amanat UUD 1945.
“Pemerintah, terutama melalui Kementerian Luar Negeri bisa menjalin komunikasi yang lebih intensif dengan Pakistan, Iran dan AS, agar proses diplomasi dan negosiasi wujudkan gencatan senjata bisa berjalan dengan produktif dan menyeluruh bahkan bukan hanya untuk 14 hari, melainkan yang permanen minimal hingga selesainya musim haji 2026, dan agar dampaknya meluas bukan hanya gencatan senjata meliputi Lebanon tapi juga negara-negara Teluk dan Palestina termasuk penghentian penutupan Masjid Al-Aqsha,” ujarnya.
HNW menambahkan, apalagi Presiden Prabowo juga dapat berkomunikasi secara baik dengan Presiden AS Donald Trump sebagaimana yang ditunjukkan dalam berbagai forum internasional, dan Pemerintah Iran masih tetap menghormati Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.






