Sikap Indonesia Harus Tegas Bela Palestina
Isu penolakan delegasi Palestina untuk masuk ke Indonesia menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam. Rakyat Indonesia memandang Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri, tetapi juga persoalan kemanusiaan, penjajahan, dan solidaritas terhadap saudara sesama Muslim yang telah lama tertindas.
Sebagai negara yang sejak dahulu dikenal mendukung kemerdekaan Palestina, kebijakan yang terkesan menjauh dari perjuangan Palestina tentu menimbulkan pertanyaan besar. Terlebih ketika pemerintah terlihat semakin dekat dengan Amerika Serikat, sementara dunia mengetahui bahwa Amerika merupakan sekutu utama Israel dalam berbagai kebijakan internasional.
Sikap Rakyat Indonesia jelas mendukung kemerdekaan Palestina. Dukungan itu lahir bukan hanya karena faktor agama, tetapi juga karena amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan. Dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Oleh sebab itu, ketika muncul kebijakan yang dianggap menghambat perjuangan Palestina, masyarakat merasa aspirasi mereka tidak didengar.
Di sisi lain, pemerintah tentu memiliki pertimbangan diplomatik dan politik internasional. Namun, pendekatan diplomasi tidak boleh membuat Indonesia kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang selama ini berdiri bersama rakyat terjajah. Sikap netral terhadap kezaliman justru dapat dianggap sebagai bentuk pembiaran.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِىْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيْرًا
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim.” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat ini menunjukkan bahwa membela kaum tertindas merupakan bagian dari nilai keimanan dan kemanusiaan. Palestina hari ini menjadi simbol penderitaan rakyat yang hidup di bawah penjajahan dan kekerasan berkepanjangan.
Allah juga berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa penderitaan kaum Muslim di Palestina seharusnya menghadirkan kepedulian nyata dari umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.






