Psikologi Tombol Like: Ketika Pemburu Validasi Terjebak Candu Digital
Oleh: Fajri, Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi.
Tidak semua candu hadir dalam bentuk rokok, alkohol, atau narkotika yang merusak fisik manusia. Sebagian candu datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, yaitu sebuah notifikasi digital, angka yang terus bertambah, dan tombol kecil bernama like.
Fitur kecil ini tidak memiliki suara maupun aroma, bahkan hanya membutuhkan satu sentuhan ringan dari ujung jari pengguna.
Namun, jangan sekali-kali meremehkan pengaruh psikologis yang sangat besar di balik kesederhanaan fitur tersebut. Di balik kepraktisannya, tombol like telah mengubah cara pandang banyak orang dalam menilai harga diri mereka sendiri. Perubahan perilaku ini terjadi secara perlahan tanpa disadari oleh mayoritas pengguna media sosial aktif.
Pernahkah kita mengunggah sebuah foto, tulisan, atau video ke jejaring digital lalu beberapa menit kemudian langsung mengeceknya kembali? Kita sengaja membuka gawai berulang kali hanya untuk melihat apakah jumlah tanda suka tersebut sudah bergerak bertambah. Ketika angkanya naik, hati kita seketika merasa lega dan ada kepuasan batin yang muncul.
Namun, ketika unggahan tersebut sepi respons dari netizen, muncul pertanyaan yang pelan-pelan mulai mengusik kedamaian pikiran. Kita mulai mempertanyakan apakah konten yang dibagikan tidak menarik atau justru diri kita yang sudah tidak dianggap penting lagi. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan sebuah pergeseran paradigma yang besar.
Aktivitas digital yang semula hanya bertujuan mencari perhatian, kini bertransformasi menjadi kebutuhan psikologis akut akan sebuah pengakuan publik. Ketika pengakuan itu terus-menerus dikejar setiap hari, validasi dari orang lain perlahan-lahan berubah menjadi sebuah candu yang mengikat. Fenomena inilah yang kini jamak terjadi pada masyarakat modern.
Dunia psikologi menjelaskan bahwa setiap kali seseorang menerima penghargaan atau pengakuan, otak manusia akan melepaskan hormon dopamin. Dopamin merupakan zat neurotransmiter yang berkaitan erat dengan munculnya rasa senang dan sistem penghargaan di dalam otak. Sensasi menyenangkan itu memang hanya berlangsung sesaat, tetapi efeknya cukup kuat untuk mendorong seseorang mengulang perilaku yang sama.
Itulah sebabnya kita sering kali tanpa sadar terus-menerus membuka aplikasi media sosial dalam berbagai kesempatan. Tindakan itu dilakukan bukan karena ada informasi penting yang sedang ditunggu, melainkan karena berharap ada tambahan satu atau dua like lagi. Sesuatu yang dicari oleh pengguna bukan lagi substansi informasi, melainkan perasaan bahwa dirinya diakui oleh lingkungan luar.
Di titik inilah media sosial tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat komunikasi universal untuk bertukar kabar. Ia telah bertransformasi menjadi ruang digital tempat banyak orang menitipkan harga diri dan eksistensi sosial mereka. Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain.
Dahulu, ruang perbandingan sosial itu hanya terjadi dalam lingkup yang sangat terbatas, seperti lingkungan keluarga, tetangga, atau teman sekolah. Hari ini, kehadiran teknologi media sosial memperluas ruang lingkup perbandingan sosial tersebut melampaui batas geografis. Dalam satu hari saja, kita bisa membandingkan diri dengan ratusan bahkan ribuan orang di seluruh penjuru dunia.
Masalah utamanya adalah kita tidak sedang membandingkan kenyataan hidup yang riil dengan kenyataan hidup lainnya secara objektif. Kita justru membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh dinamika dengan etalase kehidupan orang lain yang telah dikurasi dengan indah. Kita melihat foto liburan mewah di linimasa tanpa pernah melihat tumpukan utang yang mungkin menyertainya.
Kita sering terpukau melihat senyum merekah di layar gawai tanpa mengetahui kesedihan mendalam yang disembunyikan di baliknya. Kita juga hanya melihat puncak keberhasilan seseorang tanpa pernah menyaksikan bertahun-tahun kegagalan berdarah-darah yang mendahuluinya. Perbandingan yang tidak seimbang inilah yang perlahan-lahan melahirkan rasa insecure atau ketidakamanan emosional yang tidak berdasar.
Akibatnya, kita mulai merasa kurang menarik, kurang berhasil, kurang kaya, bahkan merasa kurang bahagia dibandingkan orang lain. Kondisi memprihatinkan tersebut terjadi bukan karena kualitas hidup kita benar-benar buruk atau tidak layak disyukuri. Hal itu terjadi semata-mata karena kita terus-menerus membandingkannya dengan versi terbaik dari potongan kehidupan orang lain.






