Menyusuri Kejayaan Sains, Seni, dan Arsitektur Megah Islam di Tanah Spanyol
Pada saat kebodohan menguasai Eropa pada abad pertama Hijriah, terdapat secercah cahaya dari Timur. Cahaya tersebut memancarkan sinarnya menuju Afrika Utara dalam perjalanannya ke Barat.
Setelah Islam membentangkan panjinya di Timur, pasukan Muslim mulai bergerak menuju Afrika Utara. Misi ini bertujuan untuk menyelamatkan wilayah tersebut dari kegelapan kebodohan.
Ketika tahun kesembilan puluh Hijriah tiba, umat Islam telah menguasai wilayah bumi yang sangat luas. Wilayah kekuasaan tersebut membentang dari India hingga Maroko di tepi Samudra Atlantik.
Ambisi umat Islam tidak berhenti sampai di situ. Musa bin Nushair mengutus salah seorang panglimanya ke Spanyol untuk mengintai serta mengetahui kondisi dan kekuatan negeri tersebut.
Ketika panglima utusan Musa tiba di Spanyol, ia tidak menemukan perlawanan yang berarti. Setelah Musa bin Nushair yakin bahwa situasi di Spanyol menjanjikan kemenangan, ia mengirimkan pasukan pada tahun 92 Hijriah.
Pasukan berjumlah tujuh ribu personel tersebut dikirim di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad untuk menaklukkan Spanyol. Tariq bersama pasukannya mendarat di dekat sebuah bukit batu yang di kemudian hari dinamakan Jabal Tariq (Gibraltar).
Ia mulai menaklukkan kota demi kota satu demi satu. Ketika berita tentang penaklukannya sampai kepada Roderick (Ludzariq), Raja Spanyol, sang raja menghimpun pasukan besar untuk memeranginya.
Kedua pasukan akhirnya bertemu di tepi sungai yang dinamai oleh umat Islam sebagai Wadi Bakkah. Sebelumnya, Tariq telah meminta bala bantuan untuk pasukannya sehingga jumlah personelnya bertambah menjadi dua belas ribu prajurit.
Sebelum pertempuran dimulai, Tariq membakar kapal-kapalnya dan berdiri menyampaikan khotbah di hadapan pasukannya. Ia berseru: “Wahai manusia, musuh berada di hadapan kalian dan laut berada di belakang kalian. Demi Allah, tidak ada yang kalian miliki saat ini kecuali kejujuran dan kesabaran.”
Setelah itu, kedua pasukan terlibat dalam pertempuran sengit yang berakhir dengan kemenangan tentara Islam. Pasukan Muslim kemudian merangsek maju ke pedalaman negeri hingga berhasil menguasai sebagian besar wilayahnya dan mencapai perbatasan Prancis.
Pemerintahan umat Islam di Al-Andalus berlangsung selama sekitar delapan ratus tahun. Selama masa tersebut, negeri ini mencapai puncak kejayaannya serta mengalami perkembangan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.
Al-Andalus menjelma sebagai obor penerang bagi seluruh Eropa. Para pelajar berdatangan dari segala penjuru, dan para utusan raja dari Prancis serta Italia saling berlomba mendatangi pintu gerbang raja-raja Muslim untuk menyampaikan penghormatan.
Pada saat ilmu pengetahuan, seni, dan sastra berkembang pesat di Al-Andalus di tangan umat Islam, penduduk Eropa masih tinggal di gubuk-gubuk. Kemampuan membaca dan menulis di kalangan mereka saat itu pun terbatas hanya pada segelintir pendeta dan bangsawan.





