LGBT Tantangan Nyata Peradaban Manusia
Oleh: Ayu Mela Yulianti, Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik.
Akhir-akhir ini kembali mencuat pembahasan tentang LGBT yang menuai pro-kontra di kalangan masyarakat. Ada yang menganggap perilaku LGBT sebagai fenomena biasa dan bukan tindak kriminal, tetapi ada pula yang menilai LGBT sebagai perbuatan dosa dan tindak kriminalitas.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, masyarakat selayaknya memahami pengertian LGBT. Istilah tersebut merupakan singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender yang semuanya mengacu pada hubungan sesama jenis.
Hubungan tersebut dapat terjadi antara wanita dengan wanita atau laki-laki dengan laki-laki. Bahkan, ada pihak yang sampai mengubah alat kelamin atau bertukar peran agar hubungannya dianggap sebagai ikatan suami-istri layaknya laki-laki dan perempuan.
Secara otomatis, perilaku demikian termasuk tindakan manipulatif. Pelaku membohongi diri sendiri karena harus melawan fakta dan realitas biologis yang mereka hadapi.
Alhasil, hubungan sesama jenis ini menampilkan perilaku manipulatif ketika satu pihak berperan sebagai laki-laki dan pihak lain berperan sebagai perempuan. Padahal, secara fakta dan realitas, keduanya memiliki jenis kelamin yang sama.
Perilaku manipulatif ini dapat membuat pelakunya mengalami keguncangan secara psikologis. Dampaknya, mereka tidak mampu membedakan antara perilaku sungguhan yang harus ditampilkan dan perilaku kepura-puraan.
Kondisi tersebut membuat pelaku tidak mampu membedakan antara realitas hidup yang harus dihadapi dan fantasi, yang akhirnya berujung pada frustrasi. Perilaku manipulatif ini kemudian dapat menjadi karakter yang menetap pada kaum LGBT.
Selain itu, perilaku LGBT juga akan menjadi jalan masuk bagi kerusakan sistem hidup manusia. Karena hubungan seksual dilakukan bukan pada tempat yang seharusnya, melainkan pada saluran pembuangan kotoran, bakteri dan kuman akan mudah menyebar.
Hal tersebut secara otomatis menyebarkan kotoran yang mengandung banyak kuman pada bagian tubuh yang terkontaminasi. Jika sampai menimbulkan luka, tingkat infeksi pada bagian tubuh tersebut akan menjadi sangat tinggi.
Maka, wajar jika kasus penyakit mematikan seperti human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) berkembang pesat. Bahkan, penyakit ini kini telah menginfeksi masyarakat di luar kalangan LGBT.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah perilaku LGBT berkontribusi pada penurunan angka kelahiran manusia secara alami. Sebab, kelahiran manusia hanya bisa terjadi melalui perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang riil.
Penurunan angka kelahiran manusia ini akan mengakibatkan keterputusan dan hilangnya generasi penerus peradaban.
Jikapun manusia kelak bisa dihasilkan melalui proses rekayasa genetika seperti membuat robot, hal demikian dinilai tidak manusiawi. Sebab, manusia adalah makhluk kompleks yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya.
Manusia diciptakan lengkap dengan potensi hidup unik yang membedakannya dengan binatang. Oleh karena itu, perilaku LGBT merupakan tindakan yang dapat mengancam eksistensi kehidupan dan peradaban umat manusia.






