Soroti Konflik Timteng, Wamenlu Anis Matta Sebut Minyak Masih Jadi Rebutan Global
Jakarta – Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menegaskan bahwa perebutan pengaruh global selama puluhan tahun tidak dapat dilepaskan dari faktor geografi dan penguasaan sumber daya energi.
Pemahaman yang mendalam terhadap peta dunia menjadi bekal penting untuk membaca arah politik internasional secara akurat. Sebab, penguasaan atas komoditas minyak bumi dinilai masih menjadi motor utama di balik pergeseran peta kekuatan politik internasional.
Pesan tersebut disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid). Agenda ini bertempat di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (10/07/2026).
Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Ketua Umum Sajid, Bachtiar Nasir. Acara ini dihadiri oleh puluhan jurnalis Muslim serta kalangan akademisi dari berbagai instansi.
Pembagian Kawasan Global
Anis menjelaskan bahwa secara geopolitik dunia terbagi ke dalam dua kawasan besar, yakni Benua Amerika dan gabungan Asia, Afrika, serta Eropa. Menurut dia, pembagian geografis tersebut sangat memengaruhi distribusi penduduk, kekuatan ekonomi, hingga perebutan pengaruh antarnegara.
Ia memaparkan bahwa sekitar 1,1 miliar penduduk tinggal di Benua Amerika, sedangkan sekitar 7,1 miliar lainnya berada di tiga benua tua. Meski demikian, kedua kawasan sama-sama menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) global.
Menurut Anis, negara-negara Islam yang tergabung dalam kelompok D-8 juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Nilai PDB gabungan dari kelompok negara tersebut dilaporkan mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS.
Potensi finansial tersebut dapat menjadi modal berharga dalam membangun kerja sama ekonomi dunia Islam yang lebih mandiri.
Minyak sebagai Faktor Strategis
Selain faktor ekonomi, Anis menekankan bahwa minyak bumi masih menjadi faktor strategis yang mendominasi hubungan internasional. Sekitar 48 persen cadangan minyak dunia tersimpan di Timur Tengah, sementara hampir sepertiga lainnya berada di kawasan Benua Amerika.
“Timur Tengah menjadi kawasan yang sangat strategis karena menyimpan hampir separuh cadangan minyak dunia. Ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kepentingan geopolitik global,” ujarnya.
Anis juga mengulas balik sejarah persaingan Blok Barat dan Blok Timur pada era Perang Dingin. Menurutnya, kepemilikan senjata nuklir oleh kedua kubu membuat perang terbuka tidak terjadi, melainkan bergeser menjadi perang proksi (proxy war) di berbagai kawasan.
Ia menilai berbagai peristiwa pergantian rezim, perang saudara, hingga konflik politik di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah merupakan dampak nyata dari kontestasi tersebut.
Sementara itu, negara-negara Teluk dinilai mampu menjaga stabilitas politik dalam negeri berkat sokongan kekayaan minyak dan gas. Kebijakan redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat juga memperkuat ketahanan kawasan tersebut.
Kondisi ekonomi yang mapan membuat kawasan Teluk berkembang lebih stabil dibandingkan sejumlah negara Arab non-Teluk yang berkali-kali dilanda pergolakan politik.[]






