NASIONAL

Dubes: Asing Acak-Acak Sudan karena Kaya Sumber Daya Alam

Jakarta (SI Online) – Duta Besar (Dubes) Sudan untuk Republik Indonesia, Yassir Mohamed Ali Mohamed, mengatakan konflik di negaranya memiliki satu tujuan yakni upaya pihak asing untuk menguasai sumber daya alam negara itu yang disebutnya sangat kaya.

Sebagai informasi, Sudan dilanda perang saudara sejak 2023 yang hingga kini telah merenggut ribuan nyawa. Konflik dipicu oleh upaya perebutan wilayah kekuasaan oleh paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan sempat menguasai beberapa wilayah di Sudan bagian Barat.

Yassir mengatakan konflik yang terbadi di Sudan merupakan bagian dari agenda dan propaganda asing karena negaranya kaya dengan sumber daya alam, pertanian, mineral.

“Ini adalah agenda besar untuk melucuti negara ini. Sudan adalah salah satu negara terkaya di dunia. Saya sampaikan ini karena ini adalah fakta,” kata Dubes Yassir, saat berbincang dengan jurnalis di Kedutaan Besar Sudan, Jl. Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu sore (04/02/2026).

Fakta itu, kata Yassir berdasarkan indeks kekayaan sumber daya alam negara-negara Afrika. Bukan hanya kekayaan di dalam tanah, Dubes Yassir melanjutkan kekayaan alam Sudan juga berada di permukaan tanah dengan hasil pertaniannya yang melimpah.

Dubes menjelaskan, Sudan merupakan penghasil kacang-kacangan terbesar di dunia, salah satunya adalah kedelai.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Yassir, negara-negara asing tak suka melihat kemakmuran Sudan, sehingga berupaya untuk mengganggunya.

Pemberontakan yang terjadi di Sudan di saat ini, dilakukan oleh RSF, juga bagian dari agenda asing. Seperti diketahui, RSF mendapat dukungan persebjataan oleh negara Arab. “Ini sudah bukan rahasia lagi, bahkan negara-negara Barat juga mengakui itu,” ujarnya.

Dubes Yassir melanjutkan, pemberitaan media asing menyebutkan situasi Sudan mencekam, namun sebenarnya kondisi tersebut hanya di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.

“Seperti Indonesia, Sudan adalah negara yang sanga luas. Mungkin seperti Jakarta dengan Papua, Aceh,” ujarnya, seraya menambahkan konflik terjadi di wilayah Sudan bagian barat, sementara wilayah timur dan selatan aman.

Peluang Kerja Sama Bisnis dan Pendidikan dengan Indonesia

Selain bicara tentang konflik di negaranya, Dubes Sudan juga bicara soal peluang kerja sama yang luas dengan Indonesia, khususnya di bidang bisnis, budaya, dan pendidikan.

Dubes Yassir mengatakan, upaya tersebut bertujuan memperkuat hubungan ekonomi dan sosial kedua negara sekaligus mendukung stabilitas nasional Sudan. “Pemerintah Sudan terus berupaya meningkatkan stabilitas nasional demi memperkuat kolaborasi tersebut,” ujarnya.

Ia menekankan sejarah panjang hubungan Indonesia–Sudan, termasuk peran ulama Sudan, seperti Syekh Ahmad Surkati, yang berdakwah di Indonesia lebih dari seabad lalu.

Syekh Ahmad Surkati adalah ulama asal Sudan yang sebelumnya mengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Dia datang ke Indonesia pada 1912, mendirikan organisasi dakwah dan pendidikan Al Irsyad, serta ikut memperkuat semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

1 2Laman berikutnya
Back to top button