SOSOK

Khalil al-Hayya Terpilih sebagai Ketua Biro Politik Hamas

Jakarta (Suaraislam.id)-Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, resmi mengumumkan terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai Ketua Biro Politik baru organisasi tersebut.

Pengumuman terpilihnya Al-Hayya pada Ahad (20/7) ini menyusul syahidnya pemimpin sebelumnya, Yahya Sinwar, dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza pada 2024. Sinwar menggantikan Ismail Haniyeh yang lebih dahulu syahid dibunuh Israel pada tahun yang sama.

Penunjukan Al-Hayya dilakukan melalui dua putaran pemungutan suara di Majelis Syura Umum (General Shura Council) Hamas saat ia berhadapan dengan Khaled Meshaal. Pada putaran pertama, tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas mutlak 50 persen ditambah satu suara.

Terpilihnya Al-Hayya sesuai dengan kerangka organisasi Hamas tahun 2021. Aturan tersebut mewajibkan jabatan tertinggi mencerminkan tiga wilayah utama, yakni Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan diaspora Palestina.

Sebelumnya, Al-Hayya merupakan anggota dewan kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang dibentuk pada akhir 2024. Kini, ia akan menyelesaikan sisa masa jabatan kepemimpinan hingga tahun 2027.

Berasal dari Dunia Akademik dan Aktivisme

Khalil al-Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960. Ia tumbuh dalam keluarga konservatif yang terdampak Perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Israel sesudahnya.

Pengalaman menyaksikan penggerebekan rumah dan penangkapan kerabatnya sejak kecil telah membentuk kesadaran politik Al-Hayya. Pada Maret 1980, pertemuan dengan pendiri Hamas, Syekh Ahmed Yassin, makin memantapkan langkahnya dalam aktivitas dakwah dan perlawanan terorganisasi.

Di bidang akademik, Al-Hayya menempuh studi Islam secara mendalam hingga meraih gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada 1983. Ia kemudian melanjutkan jenjang magister di Universitas Yordania pada 1986 dan meraih gelar doktor ilmu hadis di Sudan pada 1997.

Setelah menyelesaikan studinya, ia menjabat sebagai Dekan Bidang Kemahasiswaan di Universitas Islam Gaza dan bergabung dengan Perhimpunan Ulama Palestina.

Sebagai salah satu pendiri Hamas pada 1987, Al-Hayya berulang kali dipenjara dan mengalami penyiksaan berat oleh Israel selama Intifada Pertama. Ia kemudian resmi masuk ke arena pemerintahan usai memenangkan kursi di Dewan Legislatif Palestina pada 2006.

Negosiator Utama dan Diplomat

Selama dua dekade terakhir, Al-Hayya memegang berbagai posisi strategis, termasuk Wakil Pemimpin Hamas di Gaza dan Kepala Kantor Hubungan Arab dan Islam. Ia memimpin berbagai delegasi perundingan gencatan senjata pascaperang Israel di Gaza pada 2012 dan 2014.

Pasca-agresi besar Israel pada Oktober 2023, Al-Hayya ditunjuk sebagai kepala negosiator Hamas dalam perundingan tidak langsung terkait gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Perundingan tersebut dimediasi oleh Qatar dan Mesir.

Berbasis di Qatar sejak 2012 memberinya keleluasaan untuk menembus blokade Gaza dan mengonsolidasikan diplomasi kawasan. Ia juga memimpin berbagai agenda politik penting, termasuk menemui Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di Lebanon pada November 2023.

1 2Laman berikutnya
Back to top button