Khalil al-Hayya Terpilih sebagai Ketua Biro Politik Hamas
Berkali-kali Lolos dari Upaya Pembunuhan
Perjalanan politik Al-Hayya diwarnai berbagai ancaman pembunuhan oleh Israel serta duka mendalam akibat kehilangan keluarga. Pada Mei 2007, serangan udara Israel ke rumahnya menewaskan tujuh anggota keluarga, termasuk dua saudara laki-lakinya.
Dua putra Al-Hayya, Hamza dan Osama, juga gugur dalam serangan terpisah pada 2008 dan 2014. Serangan pada 2014 tersebut turut merenggut nyawa istri dan tiga cucunya.
Pada September 2025, Al-Hayya kembali selamat dari pemboman kompleks perumahan di Doha yang menewaskan putranya, Humam, beserta staf dan pengawalnya. Awal tahun ini, putranya yang lain, Azzam, wafat akibat luka serangan udara Israel di Kota Gaza.
Pemilihan di Tengah Perang
Keteguhan Al-Hayya membawanya menjadi pemimpin tertinggi Hamas setelah hampir tiga tahun agresi Israel bergulir. Agresi tak berkesudahan tersebut telah merenggut lebih dari 73.000 jiwa warga Palestina.
Analis politik Palestina, Abdullah Aqrabawi, menilai langkah Hamas menggelar pemilihan resmi di tengah perang menunjukkan institusionalisasi organisasi yang sangat kuat. Persaingan ketat dalam pemilihan tersebut mencerminkan perdebatan internal yang sehat mengenai arah strategis gerakan.
Sesuai aturan internal, pemilihan kepala biro politik sepenuhnya menjadi kewenangan Majelis Syura Umum. Mekanisme ini berjalan tanpa melalui pemungutan suara langsung oleh anggota di tingkat akar rumput.
Analis politik lainnya, Wissam Afifa, menambahkan bahwa Hamas memiliki prosedur darurat yang secara otomatis mengaktifkan lapisan kepemimpinan berikutnya saat krisis. Hal inilah yang menjaga organisasi tetap berjalan stabil meski berada di bawah ancaman perang. []
Mohammad Mansour
Sumber: Al Jazeera






