FILANTROPI

Momen Seratus Bulan Menjaga Dapur Santri, Gerakan Infak Beras Gelar Konvoi Charity

Bogor (Suaraislam.id) – Pada Ahad, 26 Juli 2026, deru puluhan sepeda motor memecah udara Kota Bogor. Bukan konvoi komunitas otomotif, bukan pula iring-iringan wisata akhir pekan. Di atas jok dan bagasi kendaraan itu tersusun karung-karung beras, bekal kehidupan bagi para santri yatim dan penghafal Al-Qur’an di berbagai pondok pesantren.

Sekitar 70 kendaraan yang dikendarai ratusan relawan bergerak serempak dalam Konvoi Charity Gerakan Infaq Beras (GIB) Bogor, menandai satu tonggak perjalanan yang tidak sederhana: 100 bulan istiqamah mendistribusikan beras kepada pesantren-pesantren yatim dan tahfiz sejak program ini dimulai pada 2017.

Di tengah budaya berbagi yang kerap bersifat musiman, Gerakan Infaq Beras memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak hanya hadir ketika Ramadan atau saat bencana datang. Selama lebih dari delapan tahun, para relawan memastikan kebutuhan paling mendasar di pesantren—beras untuk makan sehari-hari—terus tersedia setiap bulan.

Konvoi dimulai dengan doa dan pelepasan langsung oleh KH Luqmanulhakim, pendiri Masjid Munzalan sekaligus Founder Gerakan Infaq Beras Indonesia.

Dengan penuh rasa syukur, ia menyebut perjalanan hingga memasuki bulan ke-100 sebagai nikmat besar yang patut disyukuri.

“Alhamdulillah, kita telah melewati seri ke-100 dalam memuliakan para santri dengan mendukung kebutuhan makanan berupa beras setiap bulan,” ujarnya.

Ia pun memanjatkan doa agar seluruh donatur, relawan, dan para pendukung gerakan tersebut terus diberikan keistiqamahan dalam beramal.

“Semoga Allah menjadikan seluruh donatur dan relawan tetap istiqamah. Ketika kelak diwafatkan, semoga husnul khatimah, dimudahkan di alam barzakh, dikumpulkan bersama Rasulullah SAW di surga, dan diberi kesempatan bertemu Allah SWT,” doanya.

Dari titik keberangkatan, rombongan relawan yang dikenal sebagai PASKAS (Pasukan Amal Sholih) menyebar ke berbagai penjuru Bogor. Sebagian melintasi Jalan Sholeh Iskandar, Atang Senjaya hingga Bojong Kemang. Sebagian lainnya mengambil jalur pedesaan dari Ciampea menuju Rancabungur.

Tujuan mereka bukan satu tempat. Beras-beras terbaik itu diantarkan ke sejumlah pondok pesantren, di antaranya Pesantren Daarul El Sa’adah, Pesantren Tarbiyatunnisa, Pesantren Qurrotu Ain Al-Maliki, hingga berakhir di Rumah Qur’an Umar bin Khattab, Kemang, Bogor.

Di setiap pemberhentian, para relawan tidak sekadar menurunkan karung-karung beras. Mereka membawa pesan bahwa para santri yang sedang menghafal Al-Qur’an tidak berjalan sendiri. Ada masyarakat yang memilih menjadi bagian dari perjuangan mereka, meski hanya melalui sebutir beras.

Perjalanan panjang Gerakan Infaq Beras Bogor juga tercermin dari capaian sepanjang tahun ini. Hingga Juli 2026 saja, sebanyak 134.605 kilogram beras telah berhasil disalurkan kepada 606 pondok pesantren yatim dan tahfiz di wilayah Bogor Raya.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik distribusi bantuan. Di balik setiap kilogram beras terdapat ribuan piring makan santri yang terisi, ribuan hafalan Al-Qur’an yang terus berlanjut, serta harapan agar para penuntut ilmu dapat belajar tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap kebutuhan pangan.

Melalui syiar konvoi charity ini, Gerakan Infaq Beras Bogor mengajak masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan yang mereka sebut sebagai investasi akhirat. Kontribusi dapat dilakukan melalui infak uang mulai dari nominal yang sangat sederhana hingga sesuai kemampuan masing-masing, maupun dengan menitipkan beras berkualitas untuk didistribusikan kepada para santri.

Gerakan ini juga mengundang masyarakat Bogor, pimpinan daerah, tokoh masyarakat, para aghniya, muhsinin, dan seluruh orang-orang yang diberi kelapangan rezeki untuk menjadi “orang tua asuh” bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan Al-Qur’an di pesantren.

Bagi para relawan, seratus bulan bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar. Terkadang, dakwah lahir dari langkah-langkah sederhana para relawan yang mengangkut karung beras, menyusuri jalan-jalan Bogor, lalu mengetuk pintu pesantren agar dapur para santri tetap mengepul setiap bulan. []

Back to top button