Membangkitkan Pemuda Islam
Oleh: Desti Ritdamaya (Praktisi Pendidikan)
Sunnatullah kebangkitan suatu peradaban berada di tangan pemuda. Bukti nyata dapat dilihat dari sejarah dakwah Rasulullah saw., baik pada fase Mekah maupun Madinah.
Pada fase Mekah, mayoritas dari 40 orang as-sabiqunal-awwalun merupakan kalangan pemuda. Di antaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqas yang kala itu berumur 17 tahun, Ja’far bin Abi Talib (18 tahun), Mus’ab bin ‘Umair (24 tahun), dan Abu Bakar as-Siddiq (37 tahun).
Keterlibatan pemuda juga terlihat pada peristiwa Bai’at ‘Aqabah 1 dan 2 yang menjadikan Rasulullah saw. secara de facto sebagai pemimpin Madinah.
Pemuda menjadi kunci kebangkitan karena memiliki keistimewaan berupa hiddatul-‘uqul atau ketajaman akal. Ketajaman akal tersebut membuat pemuda mudah menerima kebenaran akidah Islam, mengamalkan syariat, serta tangguh dalam mengemban dakwah.
Kondisi ini berbeda dengan as-syuyukh atau kalangan tua pada masa awal dakwah yang cenderung mempertahankan status quo. Kalangan tua merasa nyaman dengan posisi ekonomi, kekuasaan, dan jabatan dalam sistem jahiliah.
Dalam catatan sirah, para penentang utama dakwah Rasulullah saw. dari kalangan tua umumnya meninggal dalam kekafiran, seperti Walid bin Mughirah, Abu Lahab, dan Abu Jahal. Hanya sedikit dari kalangan mereka yang diberi hidayah oleh Allah Swt. hingga beriman, salah satunya adalah Abu Sufyan.
Selama 13 abad masa Khilafah, peradaban Islam melahirkan banyak pemuda produktif di berbagai bidang, baik sebagai ulama, ilmuwan, maupun penguasa. Imam Syafi’i telah menjadi mufti pada usia 15 tahun, sedangkan Ibnu Sina menguasai bidang kedokteran dan fisika saat berusia 17 tahun.
Selain itu, Usamah bin Zaid memimpin pasukan perang melawan Imperium Romawi pada usia 15 tahun dan meraih kemenangan. Muhammad al-Fatih diangkat menjadi pemimpin pada usia 20 tahun, lalu menaklukkan Konstantinopel saat berusia 25 tahun.
Pembinaan Sistematis Rasulullah saw. pada Pemuda
Usaha mereposisi pemuda hari ini untuk kebangkitan Islam tidak dapat dilakukan secara individual. Diperlukan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.
Merujuk pada sirah, kebangkitan pemuda dimotori oleh kelompok dakwah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Keberadaan kelompok dakwah ini merupakan perintah Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 104.
Kelompok tersebut mengemban amanah dakwah secara pemikiran, bukan dengan kekerasan. Dakwah ini menyadarkan pemuda mulai dari aspek akidah Islam untuk menjawab hakikat asal-usul manusia, tujuan hidup di dunia, serta kehidupan setelah kematian.
Akidah Islam mencakup akidah ruhiyah yang menjadikan Allah sebagai al-Khaliq (Menciptakan) dan al-Mudabbir (Pengatur), serta akidah siyasiyah yang menerapkan aturan Islam secara kaffah.
Dakwah ini menyadarkan pemuda bahwa akidah Islam harus dijadikan qa’idah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Pemuda juga disadarkan akan kewajiban menegakkan ‘izzah Islam.






