SAKINAH

Mengapa Pikiran Negatif Sering Saja Terjebak di Kepala? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jakarta (Suaraislam.id)-Pernahkah Anda memikirkan kemungkinan buruk atas suatu kejadian, lalu pikiran tersebut terus menghantui meski situasi telah berubah? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pikiran negatif makin sulit dilepaskan saat berinteraksi dengan emosi dan kebiasaan merenungkan masalah secara berulang (rumination).

Penelitian dari Tilburg University dan KU Leuven yang dipimpin Lisa M. W. Vos mengamati 179 orang dewasa dengan tingkat kecemasan serta gejala depresi beragam.

Hasil studi menemukan bahwa individu dengan tingkat depresi atau kecemasan sosial lebih tinggi cenderung mengalami kesulitan besar untuk melepaskan penafsiran negatif atas suatu keadaan.

Para peneliti menemukan adanya hubungan timbal balik yang erat antara pikiran negatif dan suasana hati.

Ketika seseorang kesulitan mengabaikan anggapan negatif, mereka cenderung merasakan emosi negatif yang lebih intens. Sebaliknya, kondisi emosional yang memburuk makin memperkuat kecenderungan seseorang untuk mempertahankan prasangka buruk.

Kebiasaan memikirkan masalah secara berulang turut memperkuat siklus destruktif tersebut.

Penafsiran negatif memicu seseorang untuk terus memikirkannya, sementara kebiasaan merenung itu sendiri membuat pikiran negatif makin sulit dihilangkan.

Peneliti senior dari KU Leuven, Jonas Everaert, Ph.D., menjelaskan bahwa temuan ini mengindikasikan adanya pengaruh dua arah yang sangat kuat antara proses berpikir dan kondisi emosional.

Studi ini menyimpulkan bahwa kesehatan mental tidak selalu berarti harus selalu berpikiran positif. Hal yang jauh lebih krusial adalah kemampuan fleksibilitas mental untuk meninjau kembali suatu pikiran ketika muncul fakta atau informasi baru.

Guna menjaga keluwesan berpikir, pengelolaan emosi menjadi kunci penting. Langkah-langkah seperti mengurangi stres, menghentikan kebiasaan merenungkan masalah berulang kali, serta mengalihkan perhatian pada hal positif dapat membantu menjaga kesehatan mental. []

Sumber: ANTARA

Back to top button