10 Ribu Kader Ikadi Ikuti Pelatihan Khatib Serentak
Jakarta (Suaraislam.id) — Menginjak usianya ke-24 tahun, Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) menorehkan sejarah baru. Organisasi kemasyarakatan Islam ini menggelar Pelatihan Nasional 10.000 Khatib pada Sabtu (24/10/2026). Acara akbar yang sekaligus untuk menyambut Munas IV Ikadi ini diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Kegiatan berskala nasional ini memadukan format tatap muka dan dalam jaringan (daring). Puluhan peserta luring berasal dari Jakarta dan sekitarnya mengikuti kegiatan di aula utama Wisma Ikadi di Bambu Apus, Jakarta Timur. Sementara ribuan kader lainnya dari 38 provinsi berpartisipasi aktif melalui titik kumpul Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Daerah (PD).
Ketua Umum Ikadi, K.H. Ahmad Kusyairi Suhail, hadir langsung untuk membuka acara tersebut. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan pelatihan yang bertepatan dengan milad Ikadi adalah sebuah anugerah takdir dari Allah Swt.
“Tahun 2026 merupakan waktu yang bersejarah dalam kancah dakwah Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi), tepatnya ketika Ikadi memasuki usia ke-24 tahun,” ujar Kiai Kusyairi.
Skala acara yang sangat masif membuat pelatihan ini diproyeksikan memecahkan rekor nasional. Mengumpulkan sepuluh ribu khatib dalam satu waktu jelas membutuhkan manajemen keumatan yang terstruktur.
“Alhamdulillah, kegiatan ini insyaallah akan dicatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai pelatihan dengan peserta terbanyak,” ungkapnya.
Bagi Ikadi, pemecahan rekor Muri bukanlah tujuan akhir dari kegiatan ini. Esensi utama pelatihan ini adalah mewariskan jejak kebaikan yang dampaknya dirasakan nyata oleh umat. Nilai spiritualitas ini sejalan dengan doa Nabi Ibrahim a.s. agar menjadi buah tutur yang baik.
“Mudah-mudahan apa yang kita torehkan hari ini menjadi bagian dari jejak kebaikan yang akan dikenang secara positif,” tutur Kiai Kusyairi.
Dalam sambutannya, Kiai Kusyairi juga menyoroti kondisi sosiologis masyarakat Indonesia saat ini. Baik buruknya wajah suatu negara sangat bergantung pada denyut nadi dakwah di akar rumput. Di sinilah peran khatib menjadi krusial sebagai penjaga moral dan akidah bangsa.
“Keadaan suatu keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara sangat dipengaruhi oleh dakwah,” jelasnya mengingatkan peran penting para dai.
Ia menegaskan bahwa kelalaian umat dalam menegakkan panji kebenaran akan berdampak fatal. Pintu gerbang menuju kehancuran sosial akan terbuka lebar jika dakwah diabaikan. Hal ini sesuai dengan peringatan tegas Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Tirmidzi.
“Hendaknya kalian rajin, semangat, dan serius mengajak kepada kebaikan serta mencegah dari keburukan,” terang Kiai Kusyairi mengutip makna hadis tersebut.
Jika umat meninggalkan dakwah, Allah Swt. akan mendatangkan krisis alam, krisis moral, maupun musibah lainnya. Oleh karena itu, mimbar khutbah Jumat harus dimaksimalkan sebagai medium transformasi umat. Khutbah bukan sekadar rutinitas ritual, melainkan konferensi mingguan umat Islam.






