RESONANSI

Refleksi Hari Santri: Ketika Agama Jadi Konten, Adab dan Ilmu Dikorbankan

Oleh: Fajri, S.Pd.I., M.Ag., Gr. (Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry Konsentrasi Pemikiran Islam)

Setiap kali membuka media sosial, kita dengan mudah menemukan konten agama dalam berbagai bentuk. Ragam tayangan tersebut meliputi ceramah, pengajian, hingga perdebatan seputar bidah, tawasul, maulid, dan ziarah kubur. Semuanya kini hadir dan dapat diakses dengan mudah hanya dalam satu genggaman layar pintar.

Kemudahan ini membuat pengetahuan agama terasa semakin dekat dengan umat di era modern. Ruang digital seolah-olah memberikan peluang kebebasan bagi siapa pun untuk belajar ilmu agama dari mana saja dan kapan saja.

Namun, di balik kemudahan itu, terdapat fenomena sosial yang patut direnungkan bersama secara jernih. Penjelasan ajaran agama di dunia maya kerap hadir beriringan dengan ejekan bernada merendahkan terhadap kelompok lain. Sering kali, potongan ceramah seorang ulama sengaja dipertentangkan dengan video pendakwah lainnya demi memicu provokasi.

Akibatnya, kolom komentar berubah menjadi arena debat kusir untuk membuktikan siapa tokoh yang paling benar. Sementara itu, warganet di belakang layar asyik saling melempar label negatif kepada sesama muslim. Agama memang semakin mudah dijangkau, tetapi apakah cara kita memperlakukannya juga terbukti semakin baik?

Pertanyaan mendasar ini terasa sangat relevan dengan peringatan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan tahunan ini semestinya tidak hanya mengajak umat Islam mengenang sejarah perjuangan luhur para santri di masa lalu. Lebih dari itu, kita perlu menengok kembali bagaimana ilmu agama dipelajari, diajarkan, dan dipraktikkan hari ini.

Di ruang digital, agama perlahan bergeser dari fungsinya sebagai sumber pengetahuan murni dan pedoman hidup. Agama kini kerap direduksi dan diubah menjadi sekadar konten komersial yang diperebutkan untuk meraih perhatian publik.

Ketika Perbedaan Menjadi Tontonan

Perbedaan pandangan dalam ajaran Islam sejatinya bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Tradisi keilmuan Islam memiliki sejarah panjang perdebatan lintas mazhab mengenai akidah, fikih, penafsiran, hingga otoritas keagamaan. Perbedaan tersebut tidak selalu bermakna negatif atau berujung pada kerusakan dan perpecahan umat.

Dalam batas-batas keilmuan tertentu, perbedaan pandangan justru memacu umat untuk lebih giat membaca dan meneliti. Iklim dialektika ini secara tidak langsung mendorong kaum muslimin untuk memahami suatu persoalan agama dengan jauh lebih mendalam.

Masalah serius baru muncul ketika perbedaan tersebut kehilangan ruang untuk dijelaskan secara utuh dan komprehensif. Persoalan fikih pelik yang sejatinya membutuhkan penjelasan panjang lebar justru dipaksa ringkas menjadi konten video berdurasi singkat. Akibatnya, pendapat seorang ulama menjadi sangat rentan dipotong dan terlepas dari konteks aslinya.

Kondisi ini makin diperparah ketika kritik terhadap suatu pandangan berubah haluan dari niat awalnya. Kritik ilmiah yang rasional itu sering kali berbelok menjadi serangan emosional terhadap pribadi atau kelompok yang mengikutinya.

Kasus ini kerap terlihat menonjol dalam pusaran perdebatan antara kalangan Wahabiyyin dan Aswajiyyin di media sosial. Persoalan khilafiyah tentang bidah, tawasul, maulid, dan ziarah kubur semestinya dapat dikelola sebagai bahan diskusi ilmiah. Setiap belah pihak sejatinya memiliki argumentasi dan tradisi rujukan yang perlu dipahami secara proporsional.

Akan tetapi, ketika perdebatan itu diukur murni dengan algoritma media sosial, penjelasan yang mendalam justru sering kali kalah menarik. Bantahan tajam dan provokatif terbukti lebih memancing hasrat interaksi warganet. Konten video yang berhasil mempermalukan lawan debat jauh lebih mudah mengundang reaksi penonton.

Konten polemik semacam itu lebih disukai audiens daripada penjelasan runut yang meminta umat membaca sumber rujukan secara utuh. Pada akhirnya, tingginya dukungan massa dan kelompok di kolom komentar kerap dijadikan standar mutlak ukuran keberhasilan sebuah konten dakwah.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button