NUIM HIDAYAT

Video Heboh dan Siapa Amien Rais Sebenarnya?

Video mantan Ketua PP Muhammadiyah ini heboh dan viral beberapa hari lalu, tepatnya 20 Oktober 2026. Di video itu Amien Rais menyatakan bahwa MBS (Mohammad bin Salman) adalah Jahiliyah Abad 21. Di situ Amien menguliti dosa-dosa MBS.

Keesokan harinya, Amien Rais mantan Ketua Dewan Pakar ICMI ini, minta maaf. Ia menyatakan bahwa sebenarnya ia berkata jujur, tapi atas desakan teman-teman anaknya (Hanafi Rais), Amien minta maaf. Di video itu, Amien juga mendoakan agar pemimpin Saudi dalam lindungan dan mendapat hidayah dari Allah SWT.

Video Amien Rais itu akhirnya dihapus di akun resminya. Tapi karena penghapusan video itu agak lama, video itu sudah terlanjur menyebar di media sosial lainnya hingga kini. Di Tik Tok atau Facebook video itu masih beredar. Pembahasan tentang video itu ramai di media sosial hingga sekarang.

Data publik menunjukkan kanal Amien Rais Official tercatat memiliki sekitar 230 ribu pelanggan, 33,7 juta total penayangan, dan 781 video menurut data HypeAuditor. Jika total penayangan dibagi jumlah video, hasil kasarnya sekitar 43.150 penayangan per video.

Jarang orang seperti Amien Rais. Mas Amien -panggilannya- kini umurnya sudah 82 tahun, tapi masih lincah dan terus mengeluarkan analisa-analisa politik lewat videonya . Ia lahir di Solo pada 26 April 1944. Ia meraih gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang ilmu politik dari University of Chicago, Amerika Serikat, pada 1984. Ia mengikuti pendidikan pascadoktoral (postdoctoral) di George Washington University dan University of California, Los Angeles (UCLA) pada 1986-1989.

Amien memang orang yang haus ilmu. Sejak kecil ia dididik bapak ibunya dengan pendidikan Islam yang bagus. Tiap menjelang subuh, ibunya membangunkan Amien dan saudara-saudaranya dengan perkataan, asholatu khairum minan naum. Shalat itu lebih baik daripada tidur.

Ibunya seorang mubaligh Muhammadiyah di Solo. Ketika kecil, ia sering diajak ibunya untuk berdakwah. Kadang-kadang harus berjalan jauh ‘beberapa kilometer‘.

Salah satu nasihat ibunya adalah agar ia nanti teguh menjalankan amar makruf nahi mungkar. Amar makruf nahi mungkar adalah seperti dua sayap burung, harus seimbang. Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, dua-duanya harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Amien adalah salah satu kader kesayangan tokoh Islam Mohammad Natsir. Amien sering menemui Pak Natsir di rumahnya, kantornya atau ketika Pak Natsir berkunjung ke Yogyakarta. Ada sebuah cerita, ketika pak Amien mengetik makalah di ruangan pak Natsir, pak Natsir mengingatkan jangan lupa makan mas Amien.

Amien memang menjaga diri tubuhnya. Tidak heran meski umurnya kini 82 tahun, ia masih sehat wal afiat. Ia sering puasa Daud, sehari makan sehari tidak, kabarnya hingga kini.

Ketika menjadi mahasiswa di Amerika, Amien sering menulis kolom di Majalah Panji Masyarakat asuhan Buya Hamka. Tulisan-tulisannya bernas dan mendapat banyak penggemar. Setelah pulang dari Amerika, ia menjadi dosen ilmu politik di UGM dan meraih guru besar dalam ilmu politik.

Selain mengajar dan ceramah di masjid-masjid serta kampus-kampus, ia juga banyak menulis di media massa. Salah satu tulisan rutinnya di Harian Republika. Tulisan-tulisan Amien selalu bernafaskan Keislaman. Ia banyak menulis masalah sosial politik di Indonesia.

Amien Rais adalah yang pertama kali mengritik gagasan Nurcholish Madjid tentang pluralisme agama (penyamaan agama). Amien bahkan mengritik profesor dari Amerika, William Liddle, yang mendukung gagasan Nurcholish, dengan menjulukinya ‘Yahudi Tengik‘.

Tokoh reformasi ini, bukan hanya lincah dan menarik dalam menulis. Ia juga pandai berceramah. Setiap ceramahnya dihadiri ratusan atau ribuan massa. Penulis pernah menyaksikan langsung bagaimana ceramah Pak Amien yang menarik dihadapan ribuan massa Muhammadiyah, ketika ia bertekad untuk melengserkan pak Harto.

Pelengseran Pak Harto (1998), memang menimbulkan pro kontra di kalangan tokoh-tokoh Islam. Sebagian tokoh Islam tidak ingin pak Harto dilengserkan secara cepat, karena pak Harto saat itu lagi dekat-dekatnya dengan umat Islam.

Sepuluh tahun terakhir Pak Harto memang dekat dengan umat Islam. Pak Harto berani mencopot Benny Moerdani mantan panglima TNI yang banyak memusuhi umat Islam. Merintis pendirian Bank Islam Muamalat, merestui pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dan pendirian harian Republika.

Tapi Amien dan beberapa tokoh islam lain, berfikir lain. Mereka tidak nyaman dengan Pak Harto yang terlalu ‘full berkuasa‘, menguasai DPR/MPR, polisi, tentara dan lain-lain. Pak Harto dianggap otoriter, tidak demokratis. Pak Harto perlu diganti Habibie -wakil presiden saat itu- yang lebih intelektual dan memahami perkembangan zaman. Mereka yakin bahwa bila Habibie memerintah, kondisi Indonesia akan lebih baik.

Langkah Amien cocok dengan orang-orang kiri (Partai Rakyat Demokratik) lembaga pemikir CSIS, para perwira yang disingkirkan Pak Harto dan lain-lain.

Berhasillah pelengseran Pak Harto saat itu, bersamaan dengan dibakarnya kota Jakarta. Amien tentu tidak menyangka Jakarta akan dibakar. Tapi kelompok kiri yang dendam dengan Pak Harto -karena pak Harto dianggap aktor pembunuhan orang-orang PKI- menganggap bahwa untuk revolusi, pembakaran kota (dan korban) adalah hal biasa.

Kelompok kiri ingin Pak Harto dan Habibie lengser sekaligus, tapi pak Amien dan kelompok Islam tidak. Mereka ingin Habibie naik jadi presiden.

Naiklah Habibie menjadi presiden. Kelompok kiri dkk terus melakukan manuver. Selain mereka melakukan fitnah kepada Prabowo menantu Soeharto -dituduh melakukan aksi pembakaran di Jakarta- mereka juga menekan Habibie agar segera melakukan pemilihan presiden.

Akhirnya Habibie hanya menjabat 17 bulan (21 Mei 1998-20 Oktober 1999). Padahal Habibie berhasil memimpin Indonesia dengan baik. Melakukan demokratisasi partai, membebaskan tahanan-tahanan politik, memberi kebebasan pers dan lain-lain.

Pemilu kemudian diadakan 7 Juni 1999 dan diikuti oleh 48 partai politik. PDIP meraih kemenangan dengan 33,74% suara, sedangkan Golkar 22,44% suara. Sedangkan Partai Amanat Nasional, partainya Pak Amien hanya 7,12 % suara.

Sidang Umum MPR dilaksanakan pada 1-21 Oktober 1999. Sebelum sidang dan selama pelaksanaan sidang, lobi-lobi terus dilakukan. Orang-orang PDIP aktif melobi orang-orang Golkar dan lain-lain, agar mendukung Megawati menjadi presiden. Orang-orang di luar PDI pun melakukan lobi-lobi. Lobi politik selain dilakukan dengan adu pemikiran, biasanya disertai dengan ‘guyuran uang‘.

Dalam lobi-lobi itu, tokoh-tokoh Golkar, PAN, PK, PBB dan lain-lain sepakat menjadikan Amien Rais presiden.

Sidang MPR pun tiba. Pada 14 Oktober 1999, MPR menolak laporan pertanggungjawaban Presiden B.J. Habibie. Ini menunjukkan lobi PDIP berhasil. PDIP nampaknya juga berhasil melakukan lobi di sidang umum MPR, yaitu bahwa pemilihan Ketua MPR didahulukan sebelum pemilihan presiden.

Pemilihan Ketua MPR dilakukan pada 3 Oktober 1999. Amien Rais ‘dijebak‘ menjadi Ketua MPR. Amien sebenarnya agak ragu menerima amanah sebagai Ketua MPR, karena tokoh-tokoh politik telah memplotnya untuk menjadi presiden. Amien kemudian menelepon ibunya. Ibunya menganjurkan agar Amien menerima amanah sebagai Ketua MPR, Amien pun akhirnya menerimanya.

Pada 20 Oktober 1999, akhirnya Gus Dur menjadi presiden dan 21 Oktober 1999 Megawati menjadi presiden.

Amien yang menjadi Ketua Umum PAN terus mengevaluasi diri. PAN tidak menjadi partai besar dan ‘sering berantem’ di dalamnya. Nilai-nilai Islam pun mulai luntur di PAN.

Akhirnya pada 29 April 2021 Amien, MS Kaban dan kawan-kawan mendeklarasikan Partai Ummat. Partai yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan berkomitmen menjadikan Islam sebagai petunjuk dalam menata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan lain-lain di tanah air.

1 2Laman berikutnya
Back to top button