#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Kepentingan AS dan Israel Berbeda Soal Iran

Trump dan Netanyahu berada dalam perang ini karena alasan yang sangat berbeda. Dan itu akan segera terlihat.

Oleh: Ori Goldberg, Analis Independen.

Ketika perang AS-Israel melawan Iran memasuki hari lain yang menghancurkan, para pengamat dan politisi berlomba-lomba membingkai ketidakpastian ini ke dalam narasi yang jelas untuk membenarkan pandangan lama mereka. Israel berbicara tentang “mengubah Timur Tengah”. AS berbicara tentang “membela rakyat Amerika”. Keduanya mengulang-ulang frasa “perubahan rezim” seperti mantra, meskipun prospeknya dalam konteks Iran masih belum jelas.

Sejauh ini, pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei gagal memicu pemberontakan massal di dalam Iran seperti yang diharapkan Israel dan AS. Sementara itu, para pengamat terus mengingatkan bahwa perubahan rezim tidak bisa terjadi hanya dari serangan udara.

Namun, perang pada akhirnya adalah soal menang atau kalah. Jadi siapa yang menang?

Dorongan awalnya adalah menganggap Israel dan AS sebagai pemenang. Bagaimanapun, kedua negara itu berhasil melakukan kejutan besar dan tampaknya melumpuhkan kepemimpinan Republik Islam melalui serangan udara dan laut. Prestasi apa yang lebih besar daripada “memenggal kepala” kepemimpinan musuh?

Dengan respons lemah dari Uni Eropa dan absennya Asia dalam perkembangan ini, kesan bahwa Netanyahu dan Trump telah menang menjadi semakin kuat. Tampaknya tak ada pihak yang mampu menawarkan alternatif yang realistis terhadap tekanan total ala Israel-Amerika.

Namun, ada cara pandang lain. Singkatnya, Netanyahu dan Trump mungkin memenangkan putaran pertama permusuhan—putaran yang paling taktis dan langsung—meskipun “kemenangan” ini pun masih bisa diperdebatkan. Kemenangan itu terjadi karena kepentingan jangka sangat pendek mereka beririsan. Namun, usia aliansi yang kembali menguat ini mungkin sesingkat waktu yang dibutuhkan masing-masing pihak untuk memanfaatkan keberhasilan itu demi kepentingan eksklusif mereka sendiri.

Irisan kepentingan pertama adalah kelangsungan politik. Di Israel, Netanyahu harus menjauhkan citra kepemimpinannya dari kegagalan beruntun Israel di Gaza dan Tepi Barat. Sementara genosida terhadap rakyat Palestina terus berlangsung, Israel juga mulai kehilangan kendali penuh atas Gaza. Upaya memastikan Turki dan Qatar tak berperan sejauh ini gagal.

Di Tepi Barat, negara dan militer Israel sepenuhnya terlibat dalam mendukung perampasan tanah dan pembersihan etnis. Meski mayoritas warga Israel tak menentangnya, kepercayaan publik terhadap institusi negara—yang berpura-pura menegakkan hukum namun sangat terpolitisasi—terus menurun.

Untuk menjamin masa depan politiknya, Netanyahu harus tampak terlepas dari kegagalan itu. “Kemenangan” atas Iran—negara yang oleh banyak warga Israel dianggap sebagai musuh utama—akan kembali menegaskannya sebagai satu-satunya pemimpin yang mampu membela Israel.

Perdana menteri juga didukung oleh militer Israel, meskipun hubungan pemerintah dan militer sempat tegang sepanjang tahun lalu. Jika Netanyahu sangat membutuhkan kemenangan, militer bahkan lebih membutuhkannya. Komando tinggi ingin menghindari tudingan sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa 7 Oktober 2023, dan sudah menuntut kenaikan anggaran besar. Hanya “kemenangan bersejarah” yang dapat menjamin impunitas militer.

Di AS, Trump bukan hanya membutuhkan kemenangan, tetapi juga pengalihan perhatian. “Aksi heroiknya” di Venezuela sudah terlupakan, sementara “ulahnya” yang tercatat dalam berkas Epstein semakin hari semakin bergema kuat.

Penggunaan istilah “perubahan rezim” olehnya tampak sengaja dibuat ambigu—terbuka untuk berbagai tafsir—sehingga ia bisa mengumumkan “misi tercapai” kapan pun ia mau.

1 2Laman berikutnya
Back to top button