RESONANSI

Afrika Harus Boikot Piala Dunia 2026

Konsekuensinya akan langsung terasa.

Turnamen akan kehilangan klaim inklusivitas globalnya, dan sponsor korporasi dipaksa menghadapi pertanyaan yang selama ini dihindari.

Yang terpenting, perhatian internasional akan bergeser.

Boikot tidak mengakhiri konflik dalam semalam. Namun ia menghapus kenyamanan berpura-pura bahwa ketidakadilan tidak ada. Penarikan diri Olimpiade 1976 tidak langsung meruntuhkan apartheid, tetapi mempercepat isolasi dan memperluas koalisi global yang menentangnya.

Kontradiksi politik FIFA semakin menegaskan perlunya tekanan eksternal. Pada undian Piala Dunia di Washington, DC, 5 Desember, Presiden FIFA Gianni Infantino menganugerahkan “hadiah perdamaian” kepada Trump atas upayanya “mempromosikan perdamaian dan persatuan di seluruh dunia”.

Organisasi itu tak bisa mengklaim netralitas sembari memberi legitimasi simbolik kepada pemimpin yang memimpin di tengah kematian massal warga sipil.

Dalam konteks itu, ketidakikutsertaan menjadi posisi moral penting.

Ia mungkin tak langsung mengakhiri tragedi Gaza, tetapi akan menantang dukungan AS terhadap ofensif militer berkepanjangan dan menghormati anak-anak seperti Hastings dan Sidra.

Terpisah oleh dekade dan benua, hidup mereka memperlihatkan pola sejarah yang sama: anak-anak menjadi korban pertama ketika sistem imperium memutuskan bahwa nyawa Kulit Hitam dan Cokelat tak bernilai.

Sikap Afrika pada 1976 membentuk ulang perlawanan internasional terhadap apartheid. Keputusan serupa pada 2026 dapat memperkuat oposisi terhadap sistem dominasi kontemporer dan mengirim pesan kepada keluarga di Gaza bahwa penderitaan mereka diakui.

Sejarah mengingat mereka yang menolak ketidakadilan—dan mereka yang memilih kenyamanan saat anak-anak tewas di bawah bom dan pendudukan.

Jika tim-tim Afrika tetap berlaga di Piala Dunia 2026 seolah tak terjadi apa-apa di Gaza City, Rafah, Khan Younis, Jenin, dan Hebron, keterlibatan mereka berisiko melegitimasi struktur kekuasaan kolonial.

Ketika kritik Eropa menyerukan pencabutan status tuan rumah AS, sejarah kita menuntut penarikan diri total.

Sepak bola tak bisa dimainkan di atas kuburan para syuhada Palestina.

Afrika harus memboikot Piala Dunia 2026. []

Tafi Mhaka, Kolumnis Aljazeera.

Sumber: Aljazeera

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button