Akhirnya Israel Akui 70 Ribu Korban Terbunuh di Gaza: Rekam Jejak Penyangkalan dan Kebohongan
Israel berulang kali menyangkal jumlah korban tewas di Gaza selama lebih dari dua tahun perang genosidalnya di wilayah kantong tersebut.
Pada November 2023, seorang pejabat keamanan senior Israel menyatakan bahwa Israel telah membunuh 20.000 orang di Gaza, sebagian besar kombatan. Sebulan kemudian, angka tersebut turun menjadi 7.860 kombatan. Pada Agustus 2024, Israel menyatakan telah membunuh 17.000 kombatan, tetapi dua bulan kemudian mengubahnya menjadi 14.000.
Secara terpisah, sekutu-sekutu Barat Israel—serta media Barat—juga secara sistematis meragukan angka korban tewas yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Gaza.
Pada Oktober 2023, sekitar dua minggu setelah perang dimulai, ketika Kementerian Kesehatan Gaza merilis daftar korban lebih dari 7.000 warga Palestina, termasuk hampir 3.000 anak, Presiden AS saat itu Joe Biden mengatakan bahwa ia “tidak memiliki kepercayaan pada angka yang digunakan oleh Palestina”.
“Saya tidak punya keyakinan bahwa warga Palestina mengatakan kebenaran tentang berapa banyak orang yang terbunuh,” kata Biden.
Mengapa Israel Mengakui Angka Korban Sekarang?
Pengakuan Israel atas 70.000 korban tewas ini muncul setelah lebih dari dua tahun upaya berulang untuk menyangkal atau merusak kredibilitas jumlah korban di Gaza.
Sultan Barakat, profesor senior kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, Doha, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penting untuk memahami alasan di balik perubahan sikap Israel ini.
“Seperti biasa, iblisnya ada pada detail,” ujarnya. “Secara internasional, meningkatnya akses ke lapangan oleh PBB dan lembaga kemanusiaan lain—termasuk dari negara-negara sekutu Israel—serta dimulainya pembersihan puing-puing, membuat penolakan total menjadi tidak lagi dapat dipertahankan.”
Ia menambahkan bahwa penerimaan parsial ini dapat membantu Israel menjaga kredibilitas institusional dan menunjukkan keseriusan kepada mitra-mitra utamanya, khususnya Amerika Serikat dan pemerintah Eropa.
Barakat juga menilai bahwa ada kemungkinan terjadi penyesuaian strategi.
“Menerima angka korban memungkinkan Israel memposisikan ulang argumennya di arena internasional, terutama ketika perkembangan terbaru terkait Board of Peace telah mengalihkan perhatian global dari pertanyaan apakah genosida dan kematian massal terjadi, menuju isu rekonstruksi—dengan membingkai ulang perdebatan soal tanggung jawab dan kondisi kematian tersebut.”
Ia menambahkan bahwa hal ini termasuk penekanan pada perilaku Hamas, kondisi perang perkotaan, atau penggunaan infrastruktur sipil.
“Terakhir, penerimaan ini juga bisa berfungsi sebagai langkah defensif secara hukum. Mengakui skala kerusakan tidak serta-merta berarti mengakui kesalahan, tetapi dapat menjadi bagian dari penyusunan catatan yang lebih koheren untuk mengantisipasi penyelidikan, inkuiri, atau proses hukum di masa depan,” katanya.






