LAPSUS

Akhirnya Israel Akui 70 Ribu Korban Terbunuh di Gaza: Rekam Jejak Penyangkalan dan Kebohongan

Israel berulang kali menyangkal jumlah korban tewas di Gaza selama lebih dari dua tahun perang genosidalnya di wilayah kantong tersebut.

Perubahan ini—dari penyangkalan total, perubahan angka, hingga penerimaan sebagian fakta—merupakan bagian dari pola yang berulang.

Rekam Jejak Penyangkalan Israel

Selain menyangkal jumlah korban selama perang di Gaza, Israel juga berulang kali menolak tuduhan media dan organisasi HAM bahwa pasukannya telah membunuh anak-anak dan jurnalis, baik di Gaza maupun di Tepi Barat yang diduduki.

Pembunuhan Hind Rajab (5 tahun)

Pada 29 Januari 2024, setelah Hind Rajab yang berusia lima tahun tewas ketika sebuah tank Israel menargetkan mobil keluarganya di Gaza, Israel menyangkal bahwa pasukannya berada di wilayah tersebut. Setelah seluruh keluarganya tewas, Hind memohon selama tiga jam melalui telepon kepada petugas penyelamat sebelum akhirnya ia sendiri ditembak mati. Dalam panggilan itu, ia menggambarkan sebuah “tank” yang mendekati mobil mereka.

Ketika jenazah Hind dan keluarganya ditemukan pada 10 Februari, mobil tersebut dipenuhi lubang peluru dari berbagai arah. Belakangan diketahui bahwa lebih dari 300 peluru ditembakkan ke mobil tersebut.

Namun militer Israel menyatakan bahwa pasukannya “tidak berada di dekat kendaraan atau dalam jangkauan tembak”.

Investigasi unit Sanad milik Al Jazeera, bersama media lain dan desakan dari Amerika Serikat, kemudian membantah klaim tersebut. Israel akhirnya menyatakan bahwa kasus Hind masih “ditinjau”.

Pembunuhan Shireen Abu Akleh

Israel mengeluarkan penyangkalan serupa ketika jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, warga negara AS-Palestina, tewas ditembak saat meliput di Jenin pada 11 Mei 2022, meskipun ia mengenakan rompi pers.

Otopsi menunjukkan bahwa ia ditembak di kepala dari jarak menengah oleh seorang penembak jitu. Berbagai investigasi media, organisasi HAM, dan PBB menyimpulkan bahwa pasukan Israel bertanggung jawab.

Israel awalnya menyatakan bahwa Shireen tewas akibat baku tembak dengan pejuang Palestina, sebelum akhirnya mengakui bahwa kemungkinan besar salah satu tentaranya menembakkan peluru tersebut—namun menolak penyelidikan pidana lebih lanjut.

Keluarga Shireen menyatakan bahwa mereka masih menuntut pertanggungjawaban.

Pembunuhan Pekerja Medis dan Darurat

Pada 30 Maret 2025, jenazah lima petugas pertahanan sipil Palestina, satu pegawai PBB, dan delapan pekerja Bulan Sabit Merah Palestina ditemukan di kuburan dangkal di Gaza. Video dari ponsel salah satu paramedis yang tewas menunjukkan bahwa kendaraan darurat mereka jelas ditandai dan lampunya menyala saat ditembaki.

Israel awalnya mengklaim penembakan terjadi karena “perilaku mencurigakan”. Namun kemudian menyebut pembunuhan tersebut sebagai “kesalahan profesional” dan “kesalahpahaman”.

Mengapa Insiden-Insiden Ini Disangkal?

Menurut Sultan Barakat, pola penyangkalan ini merupakan bagian dari perang informasi, dengan tujuan menciptakan kebingungan, membatasi verifikasi independen, serta menunda konsekuensi hukum dan diplomatik.

“Penundaan pengakuan memberi Israel waktu untuk menilai risiko hukum dan mengoordinasikan pesan dengan sekutu-sekutunya,” ujarnya. []

Priyanka Shankar
Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button