Akhirnya Israel Akui 70 Ribu Korban Terbunuh di Gaza: Rekam Jejak Penyangkalan dan Kebohongan
Israel berulang kali menyangkal jumlah korban tewas di Gaza selama lebih dari dua tahun perang genosidalnya di wilayah kantong tersebut.
Organisasi-organisasi HAM juga menuduh pasukan Israel secara sengaja menargetkan warga sipil.
Secara khusus, antara Mei hingga Juli 2025, lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas oleh militer Israel di lokasi distribusi bantuan pangan yang dipimpin Amerika Serikat, menurut Euro-Med Human Rights Monitor dan seorang pensiunan perwira pasukan khusus AS, Anthony Aguilar.
Aguilar sebelumnya bekerja untuk Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga nirlaba yang didukung AS dan Israel untuk menyediakan lokasi distribusi tersebut, setelah Israel menuduh badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA, membantu Hamas.
“Tanpa keraguan, saya menyaksikan kejahatan perang yang dilakukan oleh [militer Israel],” kata Aguilar kepada BBC dalam wawancara eksklusif pada 2025.
Bagaimana Respons Israel terhadap Angka-Angka Ini?
Selama perang di Gaza, Israel sebagian besar menolak angka-angka tersebut dan mengklaim bahwa data tersebut menyesatkan atau dimanipulasi.
Pejabat militer Israel juga menyangkal klaim bahwa warga sipil menjadi sasaran di lokasi distribusi bantuan pada 2025, dan menyatakan bahwa “kekacauan” di lokasi tersebut menimbulkan “ancaman langsung” terhadap tentara mereka, sehingga memaksa mereka melepaskan tembakan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga berulang kali membantah tuduhan bahwa pasukan Israel secara sengaja menargetkan warga sipil di Gaza, dan berargumen bahwa klaim tersebut merupakan bentuk “fitnah darah” (blood libel) terhadap Israel—sebuah tuduhan palsu dan antisemit yang secara historis menuduh orang Yahudi membunuh anak-anak Kristen untuk digunakan darahnya dalam ritual keagamaan.
Pada September 2024, Netanyahu membanggakan bahwa Israel memiliki “rasio korban sipil terhadap kombatan terendah dalam sejarah perang perkotaan modern”, dengan mengklaim bahwa militer Israel hanya membunuh satu warga sipil untuk setiap kombatan yang tewas. Namun laporan militer bocor pada Agustus 2025 menyimpulkan bahwa lebih dari 80 persen korban tewas di Gaza adalah warga sipil.
Investigasi pada April 2024 oleh majalah independen +972, yang meliput Israel dan Palestina, mengungkap bahwa sistem penargetan kecerdasan buatan militer Israel dengan nama sandi Lavender telah menandai puluhan ribu warga Gaza sebagai kombatan potensial dan “layak dibunuh”, menurut sumber intelijen Israel.
Apa yang Dikatakan Israel tentang Jumlah Korban Selama Perang Gaza?
Sepanjang perang, militer Israel merilis angka korban versinya sendiri, untuk membantah data Kementerian Kesehatan Gaza—namun angka tersebut terus berubah.
Pada 7 Oktober, otoritas Israel awalnya mengatakan bahwa pejuang yang dipimpin Hamas membunuh 1.400 orang dalam serangan mereka di Israel selatan. Namun kemudian, Israel menurunkan jumlah korban tewas menjadi kurang dari 1.150 orang.
Sementara itu, laporan media Israel seperti Haaretz menyebutkan bahwa setidaknya sebagian korban tewas di Israel hari itu kemungkinan ditembak oleh militer Israel sendiri, sebagai bagian dari kebijakan kontroversial yang dikenal sebagai Arahan Hannibal, yang bertujuan mencegah musuh membawa sandera hidup-hidup.






