Alhamdulillah, Kita Punya Idola Nabi Muhammad SAW
Kehebatan Nabi Muhammad SAW bukan hanya diakui oleh sejarawan atau cendekiawan Islam, tetapi juga disebut oleh sejumlah cendekiawan Barat atau orientalis. Rasulullah SAW menjadi teladan sebagai ayah, sahabat, kepala negara, panglima perang, karyawan, pedagang, dan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang sangat berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Beliau merupakan pemimpin para nabi. Para nabi adalah orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi teladan bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
Perkataan dan ajaran Rasulullah SAW bukan berasal dari hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu Allah SWT. Al-Qur’an menyatakan:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ٣
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ٤
“Dan tidaklah dia berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3–4)
Allah SWT juga berfirman:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ٤٤
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ٤٥
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ٤٦
“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat nadinya.” (Al-Haqqah: 44–46)
Sejumlah tokoh Barat juga memberikan penilaian positif terhadap Nabi Muhammad SAW. Goethe, seorang penyair Jerman, disebut menyatakan, “Kalau Islam begitu, maka dengan demikian kami adalah kaum Muslimin. Ya, siapa saja yang berkeutamaan, luhur budi pekertinya, maka dia adalah seorang Muslim. Hanya saja agama Muhammad itu seluruhnya adalah keikhlasan, agama kemasyarakatan, dan pengayom anak-anak manusia. Jadi agama Muhammad itu berbeda dengan agama-agama lainnya.”
Dieterici, seorang orientalis Jerman dan dosen bahasa Arab, disebut menyatakan bahwa ilmu alam, ilmu falak, dan berbagai ilmu matematika yang menghidupkan Eropa pada abad ke-10 Masehi memiliki hubungan dengan ilmu yang dibawa Islam. Ia juga menyatakan bahwa Eropa berutang budi kepada Islam yang dibawa Muhammad SAW.
Bertly Sant Hiller, seorang orientalis dari Dresden, Jerman, disebut menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang kepala negara yang memperhatikan kehidupan bangsa dan kebebasannya. Ia juga menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang mengedepankan keadilan dan kasih sayang.
Sastrawan Inggris George Bernard Shaw (1817–1902) juga disebut pernah menulis buku dengan judul Muhammad. Dalam bahan tulisan ini disebutkan bahwa buku tersebut kemudian dilarang penyebarannya oleh pemerintah Inggris.
Sementara itu, sejarawan Amerika Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya manusia yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa, baik dalam bidang agama maupun kehidupan duniawi. Menurut Hart, Nabi Muhammad SAW menegakkan dan menyebarkan salah satu agama terbesar di dunia sekaligus tampil sebagai pemimpin yang tangguh dan efektif.
Namun, bagi umat Islam, dasar utama dalam menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bukanlah pengakuan para sejarawan atau cendekiawan Barat. Dasar utamanya adalah firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Allah SWT juga berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan terhadap orang-orang yang beriman, dia sangat penyantun dan penyayang. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.’” (At-Taubah: 128–129).
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik
