Al-Aqsha dalam Bahaya karena Meningkatnya Serbuan di Hari-hari Besar Yahudi
Yerusalem (Suaraislam.id) – Khatib Masjid Al-Aqsha, Syekh Ikrimah Sabri, mengatakan meningkatnya serbuan ke Masjid Al-Aqsha selama hari-hari besar Yahudi menyembunyikan perubahan yang lebih berbahaya dalam bentuk serangan terhadap masjid. Menurutnya, perubahan itu terlihat dari perluasan ritual secara terbuka dan keterlibatan pejabat Israel di dalamnya.
Ia mengatakan praktik-praktik yang sebelumnya terbatas kini diarahkan untuk menjadi kenyataan baru yang dilindungi oleh polisi pendudukan.
Dalam pernyataan kepada media, Sabri mengatakan bahaya yang terjadi tidak hanya dapat diukur dari jumlah orang yang memasuki Masjid Al-Aqsha. Menurutnya, yang lebih penting adalah berbagai kegiatan yang menyertai serbuan tersebut, seperti salat berjamaah, membawa simbol dan benda-benda keagamaan, serta upaya memberlakukan ritual baru di halaman masjid dengan dukungan politik resmi.
Ia menegaskan bahwa bahaya sebenarnya bukan hanya terletak pada adegan serbuan itu sendiri, tetapi pada apa yang berada di baliknya.
“Setiap ritual baru yang diizinkan, setiap langkah yang dilewatkan, dan setiap pejabat Israel yang memasuki masjid lalu menjalankan ritualnya di dalamnya, dimaksudkan agar seiring waktu berubah dari pengecualian menjadi kenyataan yang berlaku,” kata Sabri.
Menurut Sabri, hari-hari besar Yahudi dalam beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi musim untuk meningkatkan serangan. Dalam momentum tersebut, menurutnya, pihak pendudukan tidak hanya mengulangi serbuan, tetapi juga berusaha memberlakukan realitas keagamaan dan politik baru di dalam masjid dengan memanfaatkan rangkaian praktik yang terus berulang hingga akhirnya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Khatib Al-Aqsha itu menilai keterlibatan para menteri dan pejabat Israel dalam serbuan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kehadiran pribadi mereka. Menurutnya, keterlibatan tersebut memberikan perlindungan dari dalam pemerintahan terhadap praktik-praktik yang dipimpin kelompok pemukim dan menunjukkan hubungan antara aktivitas kelompok tersebut dengan kebijakan resmi Israel.
Sabri menegaskan bahwa salat dan ritual terbuka serta membawa apa yang disebut “persembahan nabati” bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Menurutnya, semua itu merupakan bagian dari rangkaian upaya untuk mengubah identitas serta realitas keagamaan dan sejarah Masjid Al-Aqsha.
Ia memperingatkan bahwa bahaya akan semakin besar ketika praktik-praktik terbatas berubah menjadi tindakan terorganisasi yang dilakukan di bawah perlindungan polisi.
Sabri menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha, dengan seluruh luasnya yang mencapai 144 dunam, merupakan masjid Islam yang sepenuhnya diperuntukkan bagi umat Islam. Menurutnya, pemberlakuan ritual baru di dalamnya tidak akan mengubah identitas tersebut. Ia menilai berbagai upaya itu menjadi jalan menuju penerapan pembagian waktu dan tempat di Masjid Al-Aqsha.
Pernyataan Sabri disampaikan setelah sebanyak 1.792 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsha dalam dua periode, pagi dan sore, dengan keterlibatan Menteri Keamanan Nasional Israel yang dikenal ekstrem, Itamar Ben-Gvir. Serbuan tersebut disertai ritual terbuka dan berlangsung bersamaan dengan pengetatan pembatasan terhadap masuk dan pergerakan jamaah, berdasarkan data Pemerintah Provinsi Yerusalem.
Sebelumnya, sebanyak 1.500 pemukim juga menyerbu Al-Aqsha. Mereka membawa “persembahan nabati” dan melakukan ritual keagamaan di dekat Bab al-Qattanin. Pasukan Israel juga memaksa pemilik toko di pasar menuju masjid untuk menutup usahanya. Dengan demikian, dampak serbuan meluas hingga menyentuh sumber penghidupan penduduk dan kehidupan sehari-hari mereka.
Sabri memperingatkan agar Masjid Al-Aqsha tidak diperlakukan sebagai arena persaingan politik dan pemilu, di mana setiap pihak berusaha membuktikan kemampuannya melampaui batas-batas sebelumnya dan memberlakukan praktik tambahan. Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan tingkat serangan dari satu musim ke musim berikutnya.
“Apa yang sebelumnya dilakukan secara diam-diam kini dilakukan secara terbuka. Apa yang sebelumnya dilarang kini dilindungi. Dan apa yang sebelumnya dilakukan kelompok-kelompok kecil kini diikuti pejabat politik,” katanya.
Untuk menghadapi perkembangan tersebut, Sabri menyerukan agar kesunyian dan minimnya pemberitaan mengenai apa yang terjadi di Yerusalem dan Al-Aqsha dihentikan. Ia memperingatkan bahwa jika pemberitaan hanya dibatasi pada jumlah orang yang menyerbu atau pada gambar-gambar serbuan yang terpisah, hal itu akan menutupi perubahan yang sedang diberlakukan secara bertahap di dalam masjid.
Ia menegaskan bahwa Yerusalem saat ini membutuhkan suara media yang terus menyuarakan persoalan tersebut, bukan pemberitaan sesaat yang hanya muncul karena gambar serbuan atau berita terbaru.
“Ketika media diam terhadap rincian apa yang terjadi, pelanggaran-pelanggaran kecil berubah menjadi kenyataan besar,” ujarnya.
Sabri meminta lembaga media, keagamaan, hak asasi manusia, para jurnalis, dan aktivis agar tetap menempatkan Yerusalem sebagai perhatian utama. Ia juga meminta agar berbagai praktik tersebut didokumentasikan dan maknanya dijelaskan.
Menurutnya, pengulangan adegan yang sama tanpa mengungkap tujuannya akan memungkinkan pihak pendudukan menampilkannya sebagai bagian yang biasa dari realitas Masjid Al-Aqsha.
sumber: infopalestina





