NASIONAL

Amien Rais: Jangan Pernah Ikut Trump

Jakarta (SI Online) – Dalam videonya terbaru, Ketua Majelis Syura Partai Ummat Profesor Amien Rais memulai dengan menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2026 mencapai sekitar 287,89 juta jiwa. Dengan jumlah hampir 288 juta jiwa tersebut, Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia, dari total 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di luar itu, terdapat dua entitas politik yang menyerupai negara tetapi bukan anggota PBB, yaitu Holy City Vatikan dan yang satu lagi masih gaib yaitu negara Palestina.

“Pada video saya sebelumnya, saya menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump, merupakan salah satu pemimpin yang memiliki andil besar dalam menciptakan ketegangan dalam hubungan internasional. Sebagai pemimpin negara adidaya, ia kerap melakukan misuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan secara sadar, disengaja, dan terencana. Trump juga dikenal piawai dalam membangun narasi politik untuk memenangkan pemilihan presiden, hingga akhirnya kembali terpilih dan dilantik pada 20 Januari 2025,” terang politisi yang pernah menjadi Guru Besar Ilmu Politik UGM ini dikutip Rabu (01/04/2026).

Dalam kampanye presidensial yang vulgar dan diselingi dengan berbagai kebohongan, Trump mengatakan tanpa henti bahwa hanya dialah yang sanggup menjamin kelangsungan keberadaan eksistensial Israel.

“Sambil menghantam pasangan pesaingnya dari Partai Demokrat, Joe Biden dan Kamala Haris, Trump meyakinkan ke seluruh penduduk Amerika dan penduduk Israel bahwa hanya diaalah yang bisa melindungi dan menjamin keamanan dan keberlanjutan eksistensi Israel. Jadi dia mengatakan, “Pilihlah saya atau Israel akan musnah.” Itu kata Trump dalam upayanya meyakinkan kelompok Yahudi di Amerika dan sekaligus seluruh penduduk Israel. Dan kemudian di kesempatan lain Trump berujar, ‘Israel is gone if Haris President’ jadi Israel akan ambles kalau sampai Kemal Haris jadi presiden,” paparnya

Amien melanjutkan, ”Ya, saudara-saudara, Trump yang latar belakang pendidikannya pas-pasan, cuma sampai tingkatan sarjana muda di bidang ekonomi dan kemudian berkonsentrasi menggeluti bisnis serta sekaligus meneruskan bisnis ayahnya di bidang perhotelan, pengembang real estate, media dan teknologi, licensing dan branding untuk berbagai proyek real estate. Sesungguhnya dia tidak fit jadi presiden dari sebuah negara sebesar dan sedigdaya Amerika Serikat. Tapi jangan lupa, sebagian besar rakyat Amerika pada dasarnya tidak berpendidikan tinggi.“

Mantan Ketua MPR ini menjelaskan bahwa dulu penulis bernama William J. Leerer menulis sebuah buku berjudul “A Nation of Ship”, bangsa kambing.

“Ya sebuah bangsa dari kambing. Itu pada tahun 1961, long time ago ya. Dan pada tahun 2007 terbit sebuah buku berjudul sama persis “A Nation of Ship” oleh Andres B. Napoladino. Nah, kedua penulis ini pada dasarnya mengatakan sebagian besar rakyat Amerika itu bodoh dan karena itu bersikap apatis pada masalah-masalah internasional. Sekedar contoh, saya pernah bekerja di sebuah pabrik toys atau mainan anak pada tahun 1973. Nah, di pabrik itu tidak satupun orang ya, teman-teman saya itu yang tahu di mana Indonesia. Jadi, betapa ‘cupetnya’ orang awam di Amerika itu. Bahkan saya masih ingat Mr. J. Rudolf, manajer pabrik itu bertanya pada saya, “Apa ada televisi di Indonesia?” Saya jawab, “Apa adanya, ada, tapi masih black and white, belum berwarna seperti di Amerika,” terangnya.

Lebih lanjut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menjelaskan, ”Ada lagi buku berjudul “America A Nation of Frogs That Forgot to Jump.” Ya, jadi bangsa Amerika itu bangsa kodok atau katak yang lupa cara meloncat. Buku ini terbit pada 16 September 2025, belum ada setahun ya. Tidak salah bila kita katakan mayoritas rakyat Amerika itu maaf bodoh dan berwawasan picik tetapi umumnya bersikap sok tahu dan berlagak pandai. Bila kita berpendapat Donald Trump itu sebagai presiden itu plonga-plongo penilaian kita itu tidak salah. Hakikatnya seorang presiden pada umumnya hanya merefleksikan atau mencerminkan rakyatnya. Nah, rakyat yang bodoh cenderung kuat punya presiden yang juga bodoh, pahpoh. Sementara rakyat yang cerdas punya presiden yang cerdas pula,” jelas Amien.

Amien menjelaskan bahwa puncak ketololan Trump telah mengejawantahkan dalam kreasi ketololannya yang melahirkan Board of Peace, Dewan Perdamaian. Trump berhalusinasi membuat dewan perdamaian yang akan berfungsi lebih baik dari the United Nations PBB dan akan terus dipimpin oleh Trump sampai dia mati nanti entah kapan.

“Nah, bila kita berpikir waras bagaimana bisa seorang warmonger, pecinta perang yaitu Trump bisa menciptakan perdamaian dunia. Saudara-saudara, dalam pikiran yang paling mendasar dalam struktur kepemimpinan Trump adalah bagaimana mengamankan dan memperkuat Israel agar bisa menjadi negara yang jadi ujung tombak kepentingan Amerika dan kepentingan Barat. Ya, tentu apalagi kepentingan Israel. Di samping itu jelas sekali keinginannya untuk menghabisi Arab Palestina lewat genozida dan pengusiran ilegal terhadap sekitar dua juta orang Palestina. Ini ya betul-betul tidak waras. Jadi akal waras Trump itu langsung terbang menghilang entah ke mana, tiap kali ada pembicaraan tentang masa depan Palestina.“

Menurut mantan Ketua MPR RI ini, di benak Trump cuma ada satu cara untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah, yakni dilakukan ethnic cleansing, pencucian etnik.

“Pembersihan etnik dan unlawful killing, pembunuhan yang tidak sah sama sekali terhadap rakyat Palestina. Titik. Saya yakin Presiden Prabowo 100% tahu dan paham total apa maunya si Trump. Karena itu demi nama baik Indonesia segeralah cabut keanggotaan Indonesia dari Board of Peace bikinan Trump yang ‘lohak-lohak’ itu. Tidak usah pakai alasan babibu. Mustahil dalam perdamaian konyol itu bisa menyaingi PBB. Di samping tidak ada negara besar berakal waras yang bergabung ke dalam BoP itu,” tegasnya.

Amien lebih lanjut menjelaskan bahwa .di Amerika sendiri antipati rakyat Amerika pada Trump makin meluas.

“Demo besar-besaran di semua kota besar diadakan dengan berbagai slogan ‘impeach Trump‘. Makzulkan Trump. Jangan perangi Iran dan pikirkan ekonomi rakyat Amerika yang makin terpuruk dan lain sebagainya. Sebaiknya atau lebih tepat seharusnya Pak Prabowo segera mencabut keanggotaan Indonesia dari BoP. Jadi kalau ada Indonesia joining that stupid world of peace, ya itu jawabannya, kita tentu ‘never ever’ tidak akan pernah Insya Allah kecuali kalau kita sudah jadi bangsa budak, pemimpin budak, bangsa jongos pemimpin jongos. Tapi saya kira kita bukan seperti itu. Kita bangsa besar dan sekarang nomor empat terbesar di muka bumi. Jadi kita perlu keberanian, moral courage dan kita perkuat national defense kita, national security kita. Dan hanya itu caranya dan insyaallah kita bisa kalau kita mau,” tegas pakar politik internasional senior ini. []

Izzadina

Back to top button