INTERNASIONAL

Anaknya Dibunuh Zionis Israel, Keluarga di Tepi Barat Berduka

Kekuatan mematikan

Menanggapi pembunuhan Muhammad oleh pasukan Israel, Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina yang diduduki menyatakan “terkejut”. Kantor tersebut menambahkan bahwa Muhammad adalah warga Palestina ke-1.001 yang dibunuh oleh pasukan atau pemukim Israel di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023, termasuk 213 anak-anak.

PBB juga menyebutkan bahwa anak termuda yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat adalah Laila Khatib, berusia dua tahun, yang ditembak di rumahnya di Jenin pada Januari saat penggerebekan Israel.

“Standar internasional menuntut Israel untuk memastikan adanya penyelidikan independen dan efektif terhadap semua kasus pembunuhan dalam situasi kekerasan atau mencurigakan,” kata kantor PBB itu. “Banyaknya warga Palestina yang dibunuh, seringnya penggunaan kekuatan yang melanggar hukum, dukungan terhadap kekerasan pemukim, serta budaya impunitas untuk kejahatan terhadap warga Palestina, semuanya menunjukkan bahwa pasukan Israel menggunakan kekuatan mematikan sebagai alat untuk mengendalikan dan menindas, bukan sebagai pilihan terakhir untuk menjaga ketertiban dan kehidupan sipil.”

Menurut saksi, Muhammad dan teman-temannya sempat berlari ketika melihat kendaraan militer Israel di sekitar mereka, sebelum tentara mulai menembak.

Pernyataan awal militer Israel menyebut bahwa pasukannya merespons “para tersangka yang melempar batu” — meskipun tidak ada laporan lokal yang menunjukkan hal itu, atau bahwa Muhammad dan teman-temannya terlibat. Media Israel kemudian melaporkan bahwa investigasi awal militer menemukan penembakan itu “menyimpang dari aturan keterlibatan” dan terjadi “penyalahgunaan senjata api”.

“Kehampaan yang besar”

Jarang sekali tentara Israel menghadapi hukuman atas pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat, membuat kota dan desa seperti al-Rihiya harus menanggung kepedihan akibat tragedi seperti kematian Muhammad.

Muhammad adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Selain Mais (14 tahun), ada Jaddi (12), Sila (6), dan Elias (4).

Ketiadaan Muhammad menghancurkan seluruh keluarga.

Jubah putih yang biasa ia kenakan untuk salat Jumat masih terlipat rapi di samping tempat tidurnya, di dekat botol kecil parfum kesukaannya. Buku-bukunya masih tersusun seperti ia tinggalkan.

“Di sinilah Muhammad tidur,” kata Alia sambil menunjuk ruang kosong. “Mereka membunuh masa kecilnya.”

Masing-masing anggota keluarga berjuang menghadapi duka dengan cara sendiri. Sila menolak kembali ke sekolah — biasanya kakaknya selalu menemaninya berjalan.

Mais mengaku sempat pingsan ketika mendengar adiknya meninggal.

“Muhammad bukan sekadar adik, dia sahabatku,” katanya. “Setiap pulang sekolah, ia selalu minta aku mengajarinya pelajaran. Kalau aku sibuk, dia akan marah dan berkata, ‘Ajarin aku dulu!’ Aku takut tidur dalam gelap, jadi dia akan menemaniku sampai aku tertidur, baru dia tidur.”

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button