INTERNASIONAL
Anaknya Dibunuh Zionis Israel, Keluarga di Tepi Barat Berduka
Tas yang Muhammad bawa di hari terakhir sekolahnya masih tergantung di paku dekat tempat tidurnya.
Ayahnya, Bahjat, sering berjalan ke kamarnya, menyentuh tempat tidur dan mencium aroma bajunya.
“Kepergiannya meninggalkan kehampaan yang besar,” kata Bahjat. “Aku melihatnya di setiap sudut rumah — di meja makan, di tempat belajar, dan di area bermain.”
“Aku masih tak percaya dia telah pergi,” ujar Mais pelan. “Aku membayangkannya di surga, bermain, tertawa, bersenang-senang seperti dulu. Aku masih tak percaya dia telah pergi… dan aku tak akan pernah percaya.”[]
Sumber: Al Jazeera






