NASIONAL

BKsPPI Harap Kemenag Tepati Janji Soal Natal Hanya untuk Umat Kristen Saja

Bogor (SI Online) – Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin berharap Kementerian Agama (Kemenag) menepati janjinya terkait perayaan Natal yang hanya dirayakan oleh umat Kristen saja.

Prof. Didin menyebut adanya pernyataan terbaru dari Wakil Menteri Agama Muhammad Romo Syafii yang menegaskan bahwa Natal bersama yang dimaksud bukan kegiatan lintas agama, melainkan perayaan di internal umat Kristen. Ia mengatakan klarifikasi tersebut muncul setelah adanya dorongan dari organisasi kemasyarakatan dan tokoh-tokoh Islam.

Baca juga: Soal Natal Bersama, Wamenag: Itu Perayaan Umat Kristen, Bukan Lintas Agama

“Pernyataan yang terakhir itu mengatakan bahwa natalan bersama itu bukan natalan umat beragama, bukan antara Islam dengan Kristen, tapi sesama Kristen, mudah-mudahan saja itu tidak bohong ya,” ujar Prof. Didin saat menjawab pertanyaan jemaah dalam kajian di Masjid Ibn Khaldun Bogor pada Ahad (21/12/2025).

Oleh karena itu, ia berharap klarifikasi dari Kemenag tersebut benar adanya dan tidak menimbulkan polemik baru. Menurutnya, perdebatan soal kegiatan tersebut dinilai tidak membawa manfaat dan justru berpotensi menambah persoalan.

Baca juga: Imbauan BKsPPI untuk Menteri Agama: Batalkan Rencana Perayaan Natal Bersama

Sebelumnya isu ini mencuat setelah ada pernyataan dari Menteri Agama Nasaruddin Umar bahwa Kemenag akan menggelar perayaan Natal bersama untuk pertama kalinya. Langkah ini disebut sebagai wujud nyata merawat kerukunan dan kebersamaan di tengah keberagaman bangsa.

Prof. Didin juga menyampaikan pandangannya tentang sikap kepemimpinan. Ia menilai konsep netralitas sering disalahartikan, karena menurutnya pemimpin harus berpihak pada kebenaran. “Tidak ada yang netral di dunia ini. Pemimpin harus berpihak, yaitu pada kebenaran,” kata Ketua Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Lebih lanjut, ia menekankan peran pemimpin Muslim yang menurutnya juga memiliki tanggung jawab dakwah. Ia mengingatkan bahwa setiap pemimpin, sebelum menduduki jabatan apa pun, pada dasarnya adalah seorang dai. “Kita adalah dai sebelum segala sesuatu,” tandasnya. []

Back to top button