EDITORIAL

BNPT Asal-asalan?

Sejumlah menteri dan pejabat negara juga turut menjadi pembicara dalam “grand opening” Muktamar tersebut. Di antaranya Menkopolhukam Mahfud MD, Menparekraf Sandiaga Uno, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Saat penutupan hadir pula Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto, Anggota DPD asal Sulsel Tamsil Linrung dan ditutup oleh Ketua DPD RI La Nyala Mahmud Mattalitti.

Para pejabat itu tentu saja tidak “ujug-ujug” hadir ke Muktamar Wahdah. Jajaran pengurus pusat dan panitia muktamar sudah lebih dahulu melakukan audiensi.

Mereka bersilaturahim dahulu ke Wapres KH Ma’ruf Amin, Kantor Menkopolhukam, Menparekraf, Ketua DPD dan juga datang ke Balai Kota DKI Jakarta. Tidak hanya itu, Panitia Muktamar juga datang ke Pusbintal TNI, Cilangkap, Jakarta Timur dan diterima oleh Kapusbintal TNI Laksma TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., mewakili Panglima TNI. Dengan polisi, Wahdah juga telah beradiensi dengan Direktur Sosial Budaya Badan Intelijen Keamanan (Dirsosbud BIK) Polri, Brigjen Pol Arif Rahman di Mabes Polri, Jakarta.

Lalu ujug-ujug, BNPT memasukkan Wahdah ke kelompok afiliasi ISIS. Bagaimana bisa?

Apalagi dalam banyak kesempatan, Ketum Wahdah Ustaz Zaitun selalu menyampaikan bila organisasi yang dipimpinnya bermanhaj wasathiyah Islam. Sama dengan manhaj yang diusung oleh MUI.

Ketiga, pada slide Yayasan dan Lembaga Amal Terafiliasi Kelompok Terror, BNPT menuliskan Nusantara Palestina Center (NPC) sebagai lembaga terafiliasi JAD.

Seperti ditulis dalam situs resmi NPC, lembaga ini didiriikan oleh Abdillah Onim. Aktivis kemanusiaan asal Indonesia yang saat ini terus membantu masyarakat Palestina di Gaza. NPC baru berdiri pada 8 Maret 2018 lalu.

Onim sendiri masuk ke Gaza saat masih bergabung bersama MER-C. Belasan tahun ia membantu masyarakat Palestina melalui jalur kemanusiaan dan kiprahnya itu diketahui secara luas oleh banyak kalangan, termasuk Kedutaan Republik Indonesia di Amman, Jordania.

Pada Agustus 2017, Onim dan keluarganya diundang khusus bertemu Dubes RI untuk Kerajaan Yordania dan Negara Palestina, H. E. Drs. Andy Rachmianto, M.Phil., dalam momentum perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bang Onim adalah mata dan telinga saya di Jalur Gaza,” kata Dubes Andy di hadapan belasan pemimpin lembaga kemanusiaan dan sosial saat rapat bersama utusan UNRWA PBB di kantor Kementrian luar Negeri Republik Indonesia, 18 Februari 2018, seperti dilansir situs npc.or.id. Lalu, bagaimana ceritanya NPC bisa dikaitkan dengan JAD?

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button