Bonus Demografi dan ‘Halal Way’ Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, produktivitas total faktor produksinya justru menurun sejak pertengahan dekade. Ketika krisis utang global menghantam awal 1980-an, ekonomi Brasil kolaps ke dalam lost decade.
Pertumbuhan negatif terjadi berulang sepanjang 1980-an dan 1990-an. Pelajaran dari kedua negara ini berbeda, namun sama pentingnya.
Afrika Selatan gagal karena fondasi yang lemah sejak awal. Sedangkan Brasil gagal karena pertumbuhan tinggi yang dibangun di atas fondasi rapuh. Keduanya adalah pengingat keras bagi Indonesia.
Problematika yang dihadapi Indonesia juga diperparah oleh persoalan struktural yang belum tuntas. Dari sisi kualitas manusia, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia memang terus membaik.
Indeksnya naik dari 68,90 pada 2014 menjadi 75,02 pada 2024. Rata-rata pertumbuhan tahunannya sekitar 0,7 hingga 0,8 persen selama satu dekade terakhir.
Namun, laju ini tergolong lamban untuk ukuran negara yang ingin lepas dari jebakan kelas menengah (middle income trap). Perbaikan bertahap semacam ini tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan struktural yang sudah menumpuk puluhan tahun.
Persoalan makin nyata jika kita menengok daya inovasi bangsa. Dalam Global Innovation Index, posisi Indonesia sempat terperosok ke peringkat 75 dunia pada 2022.
Posisinya membaik ke peringkat 61 pada 2023, peringkat 54 pada 2024, dan bertahan di peringkat 55 pada 2025. Perbaikan ini patut diapresiasi, namun Indonesia masih tertinggal jauh dari Vietnam di peringkat 44 dan Thailand di peringkat 45.
Dua negara ASEAN itu sering dianggap sebagai kompetitor langsung kita dalam menarik investasi manufaktur dan investasi berbasis teknologi.
Ditambah lagi, kemiskinan masih menjadi beban struktural yang belum sepenuhnya terurai. Meski persentase penduduk miskin menurun dari 10,14 persen pada Maret 2021 menjadi 8,25 persen pada September 2025, jumlah absolutnya masih di kisaran 23 juta jiwa.
Ini adalah pekerjaan rumah besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pertumbuhan ekonomi biasa-biasa saja. Diperlukan lompatan, bukan sekadar perbaikan inkremental (bertahap).
Relevansi dan Simulasi HVC
Di sinilah halal way (jalur halal) pertumbuhan ekonomi menemukan relevansinya. Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki Jepang maupun China di masa keemasan mereka.
Modal tersebut yaitu populasi Muslim terbesar dunia dan pasar ekonomi syariah global yang terus membesar. Laporan State of the Global Islamic Economy Report mencatat data penting.
Belanja konsumen Muslim dunia di sektor makanan halal, fesyen sopan, pariwisata ramah Muslim, farmasi, kosmetik, dan media mencapai 2,43 triliun dolar AS pada 2023. Angka ini diproyeksikan tembus 3,36 triliun dolar AS pada 2028.






