Cara Islam Mencetak Generasi Berkepribadian Mulia
Negara dalam naungan sistem Islam niscaya menjalankan perannya sebagai pengurus urusan rakyatnya, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan murah bahkan gratis. Pendidikan ini pun dapat diakses oleh seluruh rakyat tanpa membedakan kelas sosial. Sebab, dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan hak bagi setiap individu sebagaimana sabda Baginda Rasulullah Saw, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah).
Dalam sistem Islam, pendidikan jelas tidak dapat berdiri sendiri, tetapi juga didukung oleh sistem lainnya yang berdasarkan syariah. Misal, sistem ekonomi Islam menjamin tersedianya pembiayaan penyelenggaraan pendidikan yang berasal dari Baitulmal. Adapun sumber-sumber Baitulmal yang melimpah diperoleh antara lain dari zakat, kharaj, dan jizyah, serta dari hasil pengelolaan kepemilikan umum seperti tambang dan energi.
Dalam sistem sosial, media, hingga sistem sanksi Islam juga menjamin terciptanya lingkungan yang bersih dari kriminalitas, pornografi, narkoba, dan gaya hidup bebas. Sementara itu, sistem politik Islam menjamin bahwa setiap kebijakan negara berorientasi pada ketaatan kepada Allah SWT dan kemaslahatan rakyat. Bukan demi kepentingan oligarki atau korporasi.
Dengan dukungan seluruh sistem yang sahih ini niscaya lahir generasi ulul albab sekaligus khairu ummah, yakni generasi terbaik yang pemikir, pejuang, dan pemimpin peradaban Islam. Generasi yang tidak hanya mampu menguasai sains dan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menegakkan keadilan dan kemuliaan Islam. Generasi seperti ini niscaya memiliki kesadaran bahwa hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT dan menegakkan aturan Allah SWT di atas bumi.
Dalam naungan sistem Islam, pendidikan niscaya akan melahirkan generasi seperti para sahabat, ulama, dan ilmuwan yang membawa Islam menuju masa kejayaannya. Sungguh berbeda dengan pendidikan dalam naungan sistem kapitalisme-sekularisme generasi yang justru melahirkan generasi yang hilang arah dan kering spiritualitas. Wallahu’Alam bissawab.
Jannatu Naflah, Praktisi Pendidikan.






