NASIONAL

DDII dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Dakwah dan Pendidikan

Peluang kerja sama tersebut berangkat dari hubungan yang memiliki akar sejarah panjang. DDII didirikan pada 1967 oleh Mohammad Natsir bersama sejumlah tokoh Islam. Sejak awal, organisasi ini bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial kemanusiaan.

Pengaruh pemikiran Natsir juga melampaui batas Indonesia. Gagasan dakwah, pendidikan, dan pembangunan umat yang diwariskannya turut menjadi bagian dari hubungan intelektual antara tokoh-tokoh Islam di Indonesia dan Malaysia.

Dalam konteks itulah, pertemuan Fathurrahman dengan Anwar Ibrahim menjadi penting. Komunikasi antara keduanya bukan hanya membicarakan keadaan sebuah organisasi, melainkan juga untuk menerjemahkan kedekatan historis menjadi program yang berpotensi memberikan manfaat nyata bagi generasi muda.

Sebelumnya, Fathurrahman bertemu Anwar Ibrahim di Putrajaya, Malaysia, pada Rabu (21/10/2026). Pertemuan tersebut membahas perkembangan dakwah Islam di Indonesia dan Malaysia, tantangan yang dihadapi umat Islam, serta pertukaran pandangan mengenai isu-isu internasional.

Anwar menyampaikan pertemuan itu melalui unggahan di media sosial. Ia menekankan bahwa hubungan erat kedua negara dalam bidang dakwah tidak terlepas dari warisan pemikiran tokoh-tokoh Islam, termasuk Mohammad Natsir dan Buya Hamka.

Keduanya dinilai memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan dakwah dan pemikiran Islam di kawasan Nusantara. Anwar juga berharap DDII terus memperkuat gerakan dakwah dan memperluas pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam pesannya, Anwar mendoakan agar DDII terus menjalankan dakwah dan pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Saya mendoakan agar DDII terus menyuluh jalan dakwah dan menyuburkan amal bakti agar ilmu menemukan jalannya ke hati, dan khidmat menjangkau mereka yang memerlukan,” demikian pesan Anwar sebagaimana diberitakan media Malaysia.

Ia juga berharap setiap ikhtiar DDII dapat menghadirkan keteduhan bagi mereka yang lelah, harapan bagi mereka yang resah, serta manfaat berkelanjutan bagi umat.

Bagi Fathurrahman, perhatian yang diberikan Perdana Menteri Malaysia tersebut menunjukkan bahwa gerakan dakwah memiliki ruang untuk membangun kemitraan yang lebih luas, termasuk dengan pemimpin dan lembaga di tingkat internasional.

Hubungan DDII dan pemerintah Malaysia pun berpeluang berkembang melampaui pertukaran gagasan. Warisan pemikiran Mohammad Natsir dan Buya Hamka dapat menjadi landasan untuk membangun kerja sama yang lebih terarah, terutama dalam pendidikan dan dakwah. []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button