GERAKAN ISLAM

Hadapi ‘PD III’, Dewan Dakwah dan WADAH Malaysia Petakan Strategi Pembinaan Umat

Jakarta (Suaraislam.id) — Presiden Wadah Pencerdasan Umat (WADAH) Malaysia sekaligus Chairman Pusat Pungutan Zakat Malaysia, Ahmad Azam Ab Rahman, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Sabtu (22/8/2026).

Kunjungan ini menegaskan kembali ikatan historis yang kuat antara gerakan Islam di Malaysia dan Indonesia. Ahmad Azam bukanlah sosok asing bagi Dewan Dakwah karena sejak masa mudanya ia telah banyak menyerap pemikiran serta tradisi perjuangan para tokoh pendiri lembaga tersebut.

Dalam pertemuan yang turut dihadiri Deputi PZZ Malaysia, Azrin, Ahmad Azam menyampaikan kritik konstruktif mengenai krusialnya succession planning atau perencanaan kaderisasi kepemimpinan dalam organisasi Islam.

Ia menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan mandat utama dari sirah nabawiyah. Rasulullah saw. tidak hanya mendirikan sebuah gerakan, tetapi juga secara sistematis menempah generasi penerus yang tangguh untuk melanjutkan risalah Islam.

“Organisasi harus serius menyiapkan penerus,” tegas Ahmad Azam di hadapan jajaran pengurus pusat Dewan Dakwah.

Ia mengapresiasi terobosan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir yang terus konsisten mencetak ribuan dai di berbagai daerah. Menurutnya, investasi pada lembaga pendidikan kader merupakan kunci utama agar gerakan Islam tidak mengalami kebangkrutan kepemimpinan.

Kebahagiaan pun ia ungkapkan setiap kali mendatangi lembaga dakwah yang diisi oleh wajah-wajah muda. Kehadiran anak-anak muda di posisi strategis menjadi indikator paling sahih bahwa proses kaderisasi dalam tubuh organisasi berjalan dinamis.

“Kalau kita datang ke sebuah organisasi dan banyak wajah baru, itu menyenangkan. Artinya kaderisasi berjalan,” ujarnya.

Ancaman Perang Pemikiran dan Pembinaan Influencer

Selain masalah internal organisasi, Ahmad Azam menyoroti pergeseran peta dakwah di era digital yang kerap abai membina figur-figur berpengaruh. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah munculnya para influencer yang memiliki jutaan pengikut, tetapi terasing dari pembinaan organisasi Islam.

Para influencer dinilai memiliki daya pikat luar biasa dalam menggerakkan massa secara instan. Namun, pengaruh yang begitu besar tersebut sangat berbahaya jika tidak dibentengi dengan kapasitas keilmuan agama yang lurus dan pemahaman dakwah yang benar.

Oleh karena itu, ia mendesak lembaga-lembaga Islam untuk tidak bersikap apatis terhadap fenomena ini. Organisasi dakwah harus aktif merangkul dan membina para influencer agar potensi komunikasi mereka dapat dimanfaatkan untuk membenteng akhlak umat.

Ahmad Azam juga memberikan pencerahan kritis terkait eskalasi geopolitik global saat ini. Ia menggambarkan kondisi dunia sedang berada dalam ancaman “Perang Dunia Ketiga” yang pola serangannya jauh lebih terselubung dibandingkan perang militer terdahulu.

1 2Laman berikutnya
Back to top button