RESONANSI

Deforestasi dan Solusinya dalam Islam

Deforestasi, Arus Media Sosial Kapitalis, dan Perubahan Pola Pikir

Masalah deforestasi juga berkaitan dengan krisis berpikir manusia modern. Media sosial kapitalis membentuk pola pikir instan, emosional, dan pragmatis, bukan berpikir kritis dan solutif. Mayoritas rakyat menerima narasi pembangunan dan investasi tanpa kritik. Masyarakat lebih mudah tergerak oleh perasaan, seperti bangga pada proyek besar dan takut dianggap anti pembangunan, daripada berpikir kritis dampak jangka panjang.

Padahal, manusia bangkit karena pemikiran. Peradaban maju karena ide, bukan karena viralitas. Ketika manusia dikuasai perasaan semata, hawa nafsu akan menang. Kondisi demikian membawa manusia pada posisi terendah, mudah dimanipulasi dan diarahkan oleh kepentingan kapital, serta kehilangan visi peradaban.

Menghidupkan Kembali Kehidupan Islam

Solusi deforestasi bukan hanya soal kebijakan teknis atau kampanye lingkungan. Akar masalahnya ada pada sistem dan paradigma berpikir kapitalis. Islam memberikan paradigma yang menempatkan akal untuk berpikir dan hukum syariat sebagai pegangan hidup. Islam menuntut manusia untuk berpikir, bukan sekadar merasa. Akal harus dipandu wahyu, bukan dikendalikan hawa nafsu.

Dengan paradigma ini, umat mampu menolak segala bentuk eksploitasi kapitalistik dan memperjuangkan sistem Islam yang membawa kesejahteraan manusia.

Bangkitnya manusia dimulai dari bangkitnya pemikiran, dan Islam memberikan kerangka berpikir untuk itu. Oleh karena itu, langkah awal perubahan dan perbaikan yang dapat dilakukan saat ini adalah belajar memahami fakta-fakta kehidupan dan dikaitkan dengan pengaturan Islam.

Islam adalah agama yang sempurna, tidak hanya mengatur ibadah ritual, melainkan mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks ini, belajar Islam secara kaffah (menyeluruh) berarti memahami bagaimana Islam mengatur kepemilikan, politik, dan lingkungan. Dengan demikian, manusia memiliki peningkatan taraf berpikir yang menjadikannya sebagai subjek perubahan, bukan hanya menjadi konsumen informasi. []

Dias Paramita, Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button