RESONANSI

Derma yang Keliru Arah

Solusi tidak bisa instan. Ia harus bertahap, halus, dan berbasis kesadaran, bukan paksaan.

Langkah pertama adalah membuka ruang dialog. Bukan dengan nada menggurui, tetapi dengan rasa ingin tahu yang tulus. Mengajak Andi melihat bahwa zakat bukan pengganti sedekah, melainkan fondasi yang harus didahulukan.

Langkah kedua adalah menghadirkan referensi yang kredibel. Bukan sekadar opini, tetapi penjelasan dari otoritas keagamaan—ustaz, lembaga zakat, atau literatur yang mudah dipahami. Dalam banyak kasus, legitimasi eksternal lebih mudah diterima dibandingkan nasihat dari pasangan.

Langkah ketiga adalah praktik bersama. Misalnya, menghitung zakat penghasilan secara konkret, menentukan jumlahnya, lalu menyalurkannya melalui lembaga terpercaya. Pengalaman langsung sering kali lebih efektif daripada teori.

Yang tak kalah penting, Mirna perlu mengubah narasi dalam keluarga: bahwa kehormatan tidak hanya datang dari apa yang terlihat orang lain, tetapi juga dari apa yang tidak terlihat—dari kewajiban yang ditunaikan tanpa sorotan.

Dedi, tanpa disadari, bisa menjadi bagian dari solusi. Pertanyaannya yang polos justru membuka pintu refleksi. Dalam banyak keluarga, perubahan sering kali datang dari generasi yang lebih muda.

Antara Tradisi dan Kesadaran

Kisah Andi dan Mirna menunjukkan satu hal: praktik keagamaan tidak selalu berjalan seiring dengan pemahaman. Seseorang bisa tampak religius di ruang publik, tetapi menyimpan kekosongan di ruang konsep.

Ini bukan soal benar atau salah semata, melainkan soal proses belajar yang belum selesai.

Masyarakat yang minim pendidikan agama formal sejak dini cenderung membangun praktik berdasarkan tradisi. Sementara itu, generasi yang lebih muda mulai membawa pendekatan yang lebih sistematis. Di antara keduanya, diperlukan jembatan—agar agama tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipahami.

Pada akhirnya, zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar soal memberi. Ia adalah tentang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tentang memahami mana yang wajib, mana yang sunnah. Tentang membangun hubungan yang seimbang antara Tuhan dan manusia.

Dan mungkin, perubahan itu memang sering dimulai dari pertanyaan sederhana seorang anak: “Papa bayar zakat, Ma?” []

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button